Taqiyah untuk orang Arab bisa diartikan “takut atau berhati-hati atau waspada akan sesuatu dengan tujuan melindungi diri”

Imam ibn Hajar menjelaskan di “Fath-ul-Bari” 19/398:

“Berhati-hati dalam menampakkan apa yang tersembunyi di dirinya – seperti kepercayaan – dari orang lain”

Taqiyah dalam Islam diperbolehkan berdasarkan 2 ayat ini:

 “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu)”

[Surah aal-Imron 28]

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar”

[Surah an-Nahl 106]

 TAQIYAH Menurut Ulama Sunni:

Imam Qurtubi di kitabnya “Tafsir al-Qurtubi” menjelaskan 3 pendapat berkaitan dengan ayat di atas:

  1. Mu`adz ibn Jabal RA dan Mujahid keduanya berkata: “Taqiyah pada awal ketika Islam tidak kuat, tapi sekarang Allah menguatkan agama ini sehingga mereka tidak bertaqiyah ke lawan-lawannya”
  2. `Abdullah ibn `Abbas RA berkata: “Itu adalah mengucapkan (Kufur) dengan lidahnya ketika hatinya ridho dengan iman. Tetapi, tidak dibolehkan untuk membunuh atau berbuat dosa” [dengan alasan taqiyah].
  3. al-Hasan al-Basri berkata: “Taqiyah dibolehkan sampai hari pembalasan tetapi seseorang tidak boleh membunuh” [dengan alasan taqiyah].

Beliau (Imam Qurtubi) melanjutkan:

“Disebutkan, jika seorang mukmin tinggal di antara orang kafir dan dia takut akan keselamatan jiwanya, maka dia bisa bersenda gurau dengan mereka, tapi hatinya mesti nyaman dan senang dengan Islam. Taqiyah tidak diperbolehkan kecuali takut dibunuh atau bahaya besar (tangan dipotong dll). Bagi seseorang yang dipaksa untuk berbuat kekufuran, pendapat yang paling benar adalah dia bisa menolak perintah itu dan menghindar dari mengucapkan kata kekufuran”

Imam ibn Kathir menulis di kitabnya “Tafsir ibn Kathir”:

kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman} Ini adalah pengecualian untuk situasi dimana seseorang mengucapkan kalimat kufur dan setuju dengan musyrik karena dia dipaksa melakukannya dengan penganiayaan dan penyiksaan terhadapnya, tapi hatinya menolak menerima apa yang dia ucapkan dan dia, sebenarnya, ridho dengan imannya kepada Allah dan NabiNya. Para ulama sepakat bahwa jika seseorang dipaksa berbuat kekufuran, dibolehkan baginya untuk melakukannya dengan tujuan menyelamatkan jiwa atau menolak, seperti yang dilakukan oleh Bilal ketika mereka melakukan segala macam penyiksaan kepadanya, bahkan menaruh batu besar di atas dadanya di panas yang membara dan menyuruhnya untuk mengakui  ada sekutu bagi Allah. Dia menolak, (dan) mengucapkan, “Dia Ahad, Ahad.” Dan Bilal berkata, “Demi Allah, jika aku tahu ada ucapan yang lebih menjengkelkanmu daripada ini, saya akan mengucapkannya” Semoga Allah ridho kepadanya. Hal yang sama, ketika Musaylimah al-Kadzab bertanya ke Habib bin Zayd Al-Ansari, “Apakah kamu bersaksi Muhammad adalah Rasul Allah” Beliau menjawab, “Ya.” Lalu Musaylimah bertanya, “Apakah kamu bersaksi saya adalah utusan Allah” Habib berkata, “Saya tidak mendengarmu” Musaylimah memotongnya, satu demi satu, tapi beliau tetap istiqomah dengan ucapannya. Itu lebih baik dan disukai bagi Muslim untuk tetap berpendirian teguh di atas agamnya, walapun itu bisa berakibat dia dibunuh, seperti yang disebutkan oleh Al-Hafiz Ibn `Asakir dalam biografi `Abdullah bin Hudhafah Al-Sahmi, seorang Sahabat. Beliau berkata bahwa ketika ditangkap oleh Romawi, yang membawanya ke hadapan Raja mereka. Sang Raja berkata, “Jadilah Kristen dan saya akan memberikan kamu bagian kerajaan dan menikahkan putri saya” `Abdullah berkata: “Jika kamu memberikan semua yang engkau miliki dan semua yang Arab miliki untuk meninggalkan agama Muhammad walaupun sekejap, saya tidak akan melakukannya” Sang Raja berkata, “Kalau begitu saya akan membunuhmu” `Abdullah berkata, “Terserah kamu” Sang Raja memerintahkan dia disalib dan para pemanah untuk memanah dekat tangan dan kakinya sambil menyuruhnya untuk menjadi kristen, tapi beliau tetap menolak. Lalu sang Raja memerintahkan di diturunkan dan kuali perak besar dipanaskan. Kemudian `Abdullah melihat seorang tahanan perang Muslim dibawa dan dibuang ke dalamnya, sampai hanya tersisakan tulang yang terbakar. Sang Raja memerintahkan dia menjadi Kristen, tapi dia tetap menolak. Lalu dia memerintahkan `Abdullah dibuang ke dalam kuali dan dia ditaruh ke kerek untuk dibuang. `Abdullah menangis dan Sang Raja berharap beliau akan mengikuti (perintah), lalu dia memanggilnya, tapi `Abdullah berkata, “Saya menangis karena saya hanya punya 1 nyawa untuk bisa dibuang ke dalam kuali saat ini di jalan Allah; Saya ingin punya banyak nyawa sebanyak rambut di badanku yang bisa merasakan penyiksaan ini di jalan Allah” Menurut beberapa kabar, Sang Raja memenjarakannya dan tidak memberikan makan dan minum selama beberapa hari, lalu dia mengirim anggur dan babi dan beliau tidak menyentuhnya. Kemudian Sang Raja memanggil dan bertanya, “Apa yang membuatmu tidak makan” `Abdullah berkata, “Diperbolehkan untukku (dalam keadaan seperti ini), tapi saya tidak mau memberikanmu kesempatan untuk sesumbar” Sang Raja berkata, “Cium kepalaku dan saya akan membebaskanmu.” `Abdullah berkata, “Apakah engkau akan membebaskan semua tahanan Muslim bersama dengaku” Sang Raja berkata, “Ya.” Lalu `Abdullah mencium kepalanya dan dia membebaskannya dan semua tahanan Muslim. Ketika beliau kembali, `Umar bin Al-Khattab berkata, “Setiap Muslim semestinya mencium kepala `Abdullah bin Hudhafah, dan saya akan menjadi yang pertama melakukan itu.” Dia berdiri dan mencium kepalanya RA”

Dari cerita itu kita ketahui bahwa Muslim diperbolehkan untuk menyembunyikan kepercayaannya dan memperlihatkan kekufuran jika dirinya dalam keadaan bahaya, tetapi jauh lebih mulia dan terpuji apabila seseorang syahid di jalan Allah.

Maududi juga menulis di “Tafhim ul-Qur’an”:

Ayat ini berbicara tentang situasi dimana Muslim yang ditindas dengan kejam dan mengalami siksaan yang tidak terkira untuk memaksa mereka meninggalkan kepercayaannya. Mereka diberitahukan bahwa jika sesuatu saat mereka dipaksa untuk mengucapkan kalimat kufur untuk menyelamatkan jiwa mereka, ketika pada kenyataannya hati mereka kokoh menolak kekafiran, mereka akan diampuni. Sebaliknya, jika mereka menerima kekufuran di dalam hati mereka, mereka tidak akan bisa menghindari siksa Allah walaupun mereka bisa menyelamatkan jiwa mereka.

Namun ini tidak berarti, bahwa seseorang mesti mengucapkan kalimat kufur untuk menyelamatkan jiwanya. Ini hanya kemudahan tapi tidak ideal untuk seorang beriman. Menurut kemudahan ini jika seseorang mengucapkan hal itu, dia tidak berdosa. Tapi seyogyanya seorang Mukmin mengucapkan kalimat kebenaran di setiap saat walaupun badannya akan dipotong-potong. Ada contoh dari masa hidup Rasulullah rasulullah dimana beberapa orang melakukannya [tidak taqiyah] sementara yang lain melakukannya. Ada Khabbab bin Art RA yang dibaringkan di atas bara api sampai api itu padam oleh lemaknya yang meleleh, tapi dia tetap kokoh akan kepercayaannya [tidak taqiyah]. Kemudian ada Bilal Habashi RA yang disuruh memakai baju besi dan berdiri di bawah panas terik. Kemudian dia diseret di gurun panas tapi dia berkata, “Allah itu Satu” Ada seorang mukmin lainnya, Habib bin Zaid bin `Asim, yang anggota tubuhnya dipotong satu persatu atas perintah Musailimah al-Kadzab. Setiap kali anggota tubuhnya dipotong dia disuruh mengakui al-Kadzab sebagai seorang Nabi tapi selalu menolak mengakui kenabiannnya sampai nafas terakhir. Sebaliknya, ada contoh Ammar bin Yasir RA yang orangtuanya dibantai dengan kejam di depan matanya. Setelah itu diapun mengalami siksaan luar biasa, untuk menyelamatkan jiwanya, dia mesti mengucapkan kalimat kufur. Kemudian ketika dia datang menangis ke Rasulullah rasulullah, dia berkata, “Wahai Rasulullah, mereka tidak membebaskanku sampai saya berkata buruk tentangmu dan memuji berhala mereka” . Rasulullah rasulullah bertanya kepadanya, “Apakah engkau merasa seperti itu, di hatimu?” Dia menjawab, “Hatiku sangat yakin kepada Iman” Rasulullah menjawab, “Jika mereka menyiksamu seperti itu lagi, kamu boleh mengucapkan kalimat yang sama”.

Seperti kita lihat dari pembahasan diatas, TAQIYAH DILAKUKAN KE MUSUH ISLAM YANG KAFIR UNTUK MELINDUNGI DIRI DARI KEMATIAN DAN BAHAYA BESAR! Seorang Syiah juga akan berkata seperti itu, dia akan mengaku bahwa Taqiyah dilakukan untuk menyelamatkan jiwa, menghindari  bahaya dalam keadaan darurat.

TAQIYAH Menurut Ulama Syiah:

Mari kita kutip penjelasan ulama besar Syiah Imamiyah dari kitab mereka.

1) Syaikh al-Saduq, ibn Babawayh al-Qummi di kitabnya “al-I`tiqadat” (hal 114) menulis:

Kepercayaan kami tentang Taqiyah bahwa itu wajib. Dia yang meninggalkannya seperti orang meninggalkan sholat, dan tidak boleh meninggalkannya sampai datang Mahdi, dia yang meninggalkannya sebelum Mahdi bangkit telah meninggalkan agama Allah dan agama para Imam Syiah dan telah ingkar kepada Allah dan Rasulullah dan para Imam”

2) Dikutip dari “Bihar al Anwar” 75/421 dan “Mustadrak Safinah al-Bihar” 10/416, penulis al-Hidayah berkata:

Taqiyah adalah wajib dan haram untuk meninggalkannya sampai Mahdi bangkit dan dia yang meninggalkannya sudah melanggar hukum Allah dan Rasulullah rasulullah dan para Imam AS”

3) `Abbas al Qummi menulis di “Al Kuna wal Alqab” 1/141:

Taqiyah adalah sebuah kewajiban atas kita di pemerintahan tirani [maksud dia khilafah Islam] dan dia yang meninggalkannya sudah meninggalkan agama Syiah Imamiyah dan tersesat jauh darinya

4) Di “Mir’at al-Anwar” (hal 337), al`Amili menulis:

Riwayat sahih & mutawattir yang jelas membuktikan bahwa Taqiyah tetap berlaku sampai Mahdi bangkit

5) Khomeini menulis di “Al Makasib al Muharramah” (2/162):

Meninggalkan Taqiyah adalah dosa yang bisa membawa ke dasar neraka dan sama seperti mengingkari nubuwwah dan Allah

Namun dia mengkontradiksi diri sendiri ketika ingin menyingkirkan Syah Iran. Dia menyuruh pengikutnya untuk berhenti bertaqiyah dan memerangi penguasa Iran.

Di “al-Taqiyya fil-Fikr al-Islami” hal 103 dan “Durus fil-Jihad wal-Rafd” hal 55-58 dia menulis:

Taqiyah adalah Haram dan menyebarkan kebenaran adalah wajib apapun konsekuensinya”

Khomeini juga mengkontradiksi diri sendiri di “Tahrir al-Wasilah” edisi #2792:

Sebuah hal yang memalukan untuk diam saja dalam kondisi seperti itu dan memperlihatkan ketakutan di depan para tirani yang ingin merusak kehormatan manusia dan al-Qur’an dan hukum Islam yang abadi. Bangkit dan berontak dan berjuang dan perbaiki!”

Pertanyaan untuk Khomeini & Syiah: Apakah berarti imam maksum juga telah melakukan “sebuah hal yang memalukan” karena Syiah percaya mereka sering bertaqiyah?

Khomeini berbicara tentang berbagai macam Taqiyah di “al-Rasa’il” 2/174, dia menjelaskan tentang “Taqiyah Mudaratiyah”:

“Itu adalah untuk membuat mereka yang berbeda dengan kita (Sunni) untuk mencintai kita dan untuk menarik mereka dengan persahabatan dalam situasi dimana tidak ada ketakutan ataupun bahaya (untuk Syiah) tidak seperti Taqiyah karena takut”

Khomeini berkomentar lagi di  “al-Rasa’il” 2/201:

Taqiyah itu wajib dengan mereka yang berbeda dengan kita biarpun tidak ada rasa takut [red: disiksa/dibunuh] untuk diri sendiri atau orang lain”

6) al-Shirazi menulis di “al Qawa`id al Fiqhiyah” 1/410:

Tujuan taqiyah tidak hanya untuk menyelamatkan diri dan mencegah celaka dan bahaya untuk diri sendiri dan keluarga dan kekayaan. Itu bisa juga untuk menjaga persatuan Muslim saat tidak ada keperluan untuk memperlihatkan kepercayaan yang asli atau membelanya. Bisa juga untuk tujuan lain, seperti menyebarkan dakwah dengan cara lebih baik…”

Berarti apa yang ayatulah al-Shirazi katakan, syiah mesti berdusta untuk mendekati seseorang dan ketika orang itu percaya mereka, maka sedikit demi sedikit mereka bisa menyisipkan kepercayaan Syiah untuk meragukan kepercayaan orang itu sehingga mudah diajak menjadi Syiah.

7) Muhsin al-Hakim menulis di “al-Mustamsak” 2/410:

“Saya katakan: Tugas (kita) adalah bersenda gurau dengan mereka (Sunni) dan dekat dengan mereka, haram untuk meninggalkan hal ini, sehingga mereka tidak sadar akan perbedaan (kita)”

dan dia menulis di hal 332:

“Faedah yang kita dapatkan dari riwayat Taqiyah adalah itu diatur agar Syiah bisa menyembunyikan (kepercayaan) dari lawannya, dan agar mereka tidak diketahui Syiah dan Rafidi

Jadi kita bisa ambil kesimpulan dari pernyataan itu bahwa Syiah tahu mereka adalah Rofidoh pelaknat dan pencaci para sahabat RA, tapi mereka menyembunyikan kepercayaan itu agar bisa terlihat baik dan mengajak orang lain menjadi Syiah.

8) Muhammad Sadiq al-Ruhani di kitabnya “Fiqh al-Sadiq” 11/418, dia berkata tentang praktek taqiyah Imam Ja`far:

“Kita simpulkan darinya, bahwa Taqiyah adalah agama beliau (Ja`far al-Sadiq) dan agama bapak-bapaknya dan itu untuk menyembunyikan kepercayaan dari lawan kita dan mencoba untuk menyebarkannya secara rahasia. Ini penting untuk menjaga agama (Syiah) dan pengikutnya, juga penyebaran (Syiah) tergantung dengannya”

Kesimpulan

Walaupun Syiah berkata taqiyah sangat penting dalam Islam, ternyata dari fakta sejarah kita lihat betapa hampir tidak pernah Rasulullah rasulullah dan mayoritas para sahabat RA melakukannya, apalagi berpendapat meninggalkan taqiyah adalah kekufuran.

Dari banyak riwayat kita bisa lihat mereka sering menyebarkan Islam secara terang-terangan walaupun di Mekah sehingga Muslim disiksa, dibunuh, diboikot, diusir dll.

Jadi perbedaan besar taqiyah Syiah dengan Taqiyah Islami sbb:

Menurut ulama Sunni:

  1. hanya boleh dalam keadaan darurat & bahaya
  2. hanya ke musuh Islam yang kafir, bukan ke muslim
  3. tidak boleh dipakai untuk berdakwah
  4. bukan sebuah kewajiban, boleh ditinggalkan
  5. bukan bagian dari agama

Menurut ulama Syiah:

  1. teramat sangat penting bertaqiyah
  2. sebuah kewajiban setiap Syiah sampai Mahdi muncul
  3. meninggalkannya berarti ingkar kepada Allah SWT & RasulNya
  4. boleh dilakukan setiap saat bukan hanya dalam keadaan darurat & bahaya
  5. dilakukan untuk mendekatkan diri ke Sunni (yang belum tahu kepercayaan asli Syiah)
  6. dilakukan untuk menutupi kepercayaan syiah dan rofd (benci Abu Bakar RA  & sahabat RA)
  7. boleh dipakai dalam berdakwah

Bukankah taqiyah versi Syiah itu sebenarnya hanya sebuah anjuran untuk selalu berdusta ke Sunni dimana saja dan kapan saja?

Sumber dari  TwelverShia.Net

Iklan