Syiah punya hari raya yang menurut mereka lebih agung daripada 2 hari raya Islam yaitu Hari Raya Gadhir. Mereka percaya para hari itu Nabi rasulullah melantik Ali RA menjadi pemimpin umat. Syiah percaya Islam baru sempurna setelah pelantikan itu.

“…Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk [mengalahkan] agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…..” [Surah al-Maaidah 3]

[Ulama Ahlussunnah menyatakan ayat diatas berkaitan dengan haji Wada di Arafah bukan Ghadir]

Syiah juga sering mengutip hadis peristiwa Ghadir dan mengartikan kata “mawla” disitu sebagai “pemimpin”, padahal kata mawla memiliki banyak arti. Justru kalau “mawla” diartikan “pemimpin” akan menimbulkan masalah & mengkontradiksi kepercayaan Syiah.

Kita tahu bahwa hari dilantiknya seseorang adalah awal masa jabatan orang itu dimulai. Apakah berarti Ali RA adalah pemimpin umat selain Nabi rasulullah? Syiah lalu mengutip Surah an-Nisa ayat 59 sebagai bukti bisa ada 2 pemimpin yang sama pada waktu bersamaan.

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul [Nya], dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul , jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama [bagimu] dan lebih baik akibatnya. ” [Surah an-Nisa 59]

Sayangnya ayat itu justru membantah kepercayaan Syiah.

Perhatikan bagian…jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul…

Bukankah Syiah percaya imam itu maksum? Lalu mengapa tidak kembalikan saja ke ulil amri? Kenapa hanya ada perintah kembalikan ke Allah & RasulNya? Itu bukti jelas bahwa ulil amri tidak maksum & bisa salah, jika keputusan mereka berlawanan dengan Allah SWT (al-Qur’an) & RasulNya (Hadis)

Problem lain yang muncul adalah kalau memang hari gadir adalah hari pelantikan, lalu apa yang terjadi setelah pelantikan? Bukankah berarti saat itu Ali RA sudah menjadi khalifah? Mengapa setelah Nabi rasulullah wafat, pada awalnya kaum Ansar menyarankan Ansar & Muhajirin memilih pemimpin masing-masing? Bukankah semestinya mereka tahu kalau Ali RA adalah khalifah? Atau mungkin mereka yang hadir di Ghadir tidak mengartikan peristiwa itu sebagai sebuah pengangkatan seperti Syiah? Hanya Syiah yang mengartikan mawla di hadis itu berarti pemimpin.

Mari simak hadis dimana Zaid RA juga disebut mawla oleh Nabi rasulullah.

“…..Kemudian Nabi salallahu alaihi wasalam memutuskan anak itu menjadi hak bibinya lalu bersabda kepada ali: “Kamu dariku dan aku darimu”. Dan kepada Ja’far beliau bersabda:”Kamu serupa dengan rupa dan akhlaqku” Dan beliau bersabda pula kepada Zaid: “Kamu adalah saudara kami dan MAULA kami (انت اخوناومولان)” [Shahih Bukhari Kitab Al Islah hadis no 2501]

Apakah berarti Zaid RA yang juga disebut Mawla adalah imam maksum? Apa berarti Zaid RA adalah imam maksum sebelum Ali RA (beliau sudah syahid saat Ghadir)? Tentu syiah akan menolak mati-matian pendapat itu.

Demikian masalah yang timbul dari pengertian kata “mawla” ala syiah. Memang imamah syiah adalah kepercayaan yang terpenting tapi jika kita teliti, sebenarnya penuh kontradiksi & sangat mudah dibantah.

Terima kasih banyak kepada Syiah yang mengingatkan saya soal syubhat murahan Syiah ini.

Silakan lihat video peristiwa ghadir versi Syiah dari sudut pandang Googlemap 😀 – “Google Map Versus Syiah”

Iklan