Syiah sering mengutip hadis dari Sahihayn (Bukhori & Muslim) bahwa Rasulullah rasulullah marah untuk Fatimah RA marah sehingga siapa yang membuat Fatimah RA marah akan dimurkai Allah SWT.

Al Miswar bin Makhramah meriwayatkan, dia mendengar Rasulullah rasulullah berpidato di atas mimbar: “Sesungguhnya bani Hisyam bin Al Mughirah meminta izin kepadaku untuk menikahkan anak mereka dengan Ali bin Abu Thalib, maka aku tidak mengizinkan mereka, kemudian mereka minta izin lagi, akupun tetap tidak mengizinkan mereka, kemudian mereka meminta izin lagi, dan tetap tidak aku izinkan, kecuali jika Ali ingin mentalak anakku (Fatimah) kemudian menikahi anak mereka. Karena sesungguhnya anakku adalah bagian dariku. Orang yang telah menghinakannya maka akan menghinakanku pula. Dan orang yang menyakitinya, berarti menyakitiku pula.”

[Shahih Muslim 4482]

Ini adalah riwayat sahih dan terjadi justru karena rencana Ali RA melamar wanita lain. Rasulullah rasulullah melarangnya, karena takut Fatimah RA akan terkena fitnah dalam beragama atau cobaan (karena pernikahan itu). Misalkan pernikahan tersebut menghalangi istri dari menjalankan tugas & kewajibannya terhadap suami maka cerai adalah lebih baik dan ini sebuah bahasan yang luas.

Riwayat lain:

(Zain-ul-‘Abidin) ‘Ali bin Husain meriwayatkan bahwa mereka ketika tiba di Madinah dari bertemu dengan Yazid bin Mu’awiyah di masa terbunuhnya Husain bin ‘Ali Rahmatullah ‘alaihi, dia (Ali bin Husain) ditemui oleh Al Miswar bin Makhramah lalu dia (Al Miswar) berkata kepadanya’ “Apakah kamu ada keperluan dengan suatu perintah untukku?”. Maka aku katakan kepadanya; “Tidak”. Lalu dia berkata lagi kepadanya; “Apakah kamu termasuk orang yang diberi pedang Rasulullah rasulullah?. Karena aku khawatir bila mereka dapat mengambilnya dari kamu. Demi Allah, seandainya kamu menyerahkannya kepadaku, aku tidak akan pernah memberikannya kepada mereka untuk selama-lamanya hingga aku terbunuh, dan sesungguhnya ‘Ali bin Abu Thalib pernah meminang anak perempuan Abu Jahal (untuk dijadikan istri) disamping Fatimah AS, lalu kudengar Rasulullah rasulullah memberikan khuthbah kepada manusia tentang masalah itu di atas mimbar ini sedang aku saat itu sudah baligh, Beliau bersabda: “Sesungguhnya Fatimah adalah bagian dariku dan aku sangat khawatir dia terfitnah dalam agamanya”. Kemudian Beliau menyebutkan kerabat Beliau dari Bani ‘Abdu Syamsi seraya menyanjungnya dalam hubungan kekerabatannya yang baik kepada Beliau. Beliau melanjutkan: “Dia berbicara kepadaku lalu membenarkan aku serta berjanji kepadaku dan dia menunaikan janjinya kepadaku. Sungguh aku bukanlah orang yang mengharamkan suatu yang halal dan bukan pula menghalalkan apa yang haram akan tetapi, demi Allah, tidak akan bersatu putri Rasulullah rasulullah dengan putri musuh Allah selamanya”

[Shahih Bukhari 2879]

Dan dengan lafaz berbeda:

Al Miswar bin Makhramah meriwayatkan bahwasanya Ali bin Abu Thalib pernah melamar putri Abu Jahal ketika ia telah menikah dengan Fatimah binti Rasulullah rasulullah. Ketika berita tersebut didengar Fatimah, maka ia pun Iangsung mendatangi ayahnya, Rasulullah, seraya berkata; “Ya Rasulullah, sesungguhnya para sahabat engkau mengatakan bahwa engkau tidak pernah marah untuk putri-putri engkau. Sekarang ini Ali akan menikahi putri Abu Jahal.” Miswar berkata; ‘Kemudian Rasulullah rasulullah berdiri (untuk berpidato) dan saya mendengar beliau membaca syahadat. Setelah itu, beliau berkata: ‘Sesungguhnya aku telah menikahkan Abul ‘Ash bin Rabi’, lalu ia memberitahu kepadaku dan membenarkanku. Sesungguhnya Fatimah binti Muhammad adalah darah dagingku. Oleh karena itu, saya tidak suka apabila orang-orang memfitnahnya. Demi Allah, sungguh tidak boleh dipertemukan (dimadu) antara putri Rasulullah dengan putri musuh Allah oleh seorang suami untuk selama-lamanya.’ Miswar berkata; “Akhirnya Ali membatalkan lamarannya.”

[Shahih Muslim 4485]

Dari 2 hadis ini, sangat tidak tepat dipakai untuk mengecam & mengkafirkan Abu Bakr al-Siddiq RA KARENA JUSTRU HADIS TERSEBUT BERKAITAN DENGAN RENCANA ALI RA YANG MEMBUAT MARAH FATIMAH RA.

Pertanyaan Penting:

Apakah Fatimah RA satu-satunya orang yang kemarahannya membuat Rasulullah rasulullah marah? Apakah Rasulullah rasulullah hanya marah untuk Ahlulbait RA saja? Di Shahih Bukhari kita temukan:

Contoh 1:

Abu ad-Darda’ RA berkata; “Aku duduk di samping Nabi rasulullah, tiba-tiba Abu Bakr datang sambil memegang tepi baju beliau rasulullah hingga merapat pada lutut beliau. Maka Nabi rasulullah bertanya: “Apakah teman kalian telah marah?”. Maka Abu Bakr memberi salam lalu berkata; “Aku punya masalah dengan Ibnu Al Khaththab lalu aku terlanjur marah kepadanya namun kemudian aku menyesal, aku pun datang menemuinya untuk meminta maaf namun dia enggan memafkan aku. Maka itu aku datang kepada baginda”. Maka beliau bersabda: “Allah akan mengampunimu, wahai Abu Bakr”. Beliau mengucapkan kalimat ini tiga kali. Kemudian ‘Umar menyesal lalu mendatangi kediaman Abu Bakr dan bertanya; “Apakah ada Abu Bakr?”. Orang-orang menjawab; “Tidak ada”. Kemudian ‘Umar menemui Nabi rasulullah yang kedatangannya ini membuat wajah Nabi rasulullah nampak marah namun ketegangan itu berhenti karena kedatangan Abu Bakar yang langsung duduk bersimpuh pada lutut beliau seraya berkata; “Wahai Rasulullah, aku sudah berbuat aniaya dua kali”. Maka Nabi rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah mengutus aku kepada kalian namun kalian mengatakan; “Kamu pendusta” sedangkan Abu Bakr berkata; “Dia orang yang jujur’ dan dia berjuang mengorbankan dirinya dan hartanya. Apakah kalian akan meninggalkan kepadaku sahabatku?”-Beliau ulang dua kali–. Maka sejak saat itu Abu Bakr tidak disakiti lagi

[Shahih Bukhari 3388]

Contoh 2:

Abu Darda meriwayatkan Abu Bakr dan Umar pernah berdebat hingga Abu Bakr marah kepada Umar. Umar pun berpaling darinya dalam keadaan marah. Lalu Abu Bakr mengejarnya untuk meminta maaf. Namun Umar tidak memberi maaf hingga ia menutup pintu rumahnya dihadapan Abu Bakr. Abu Bakr kemudian menemui Rasulullah rasulullah. Abu Darda berkata; pada waktu itu aku berada disamping Rasulullah rasulullah. kemudian Rasulullah rasulullah bersabda: “Sesungguhnya temanmu ini telah berbuat baik lebih dahulu.” Abu Darda berkata; maka Umar menyesal atas apa yang telah dia perbuat. Lalu ia datang dan mengucapkan salam serta duduk di samping Rasulullah rasulullah seraya menceritakan kepada Rasulullah rasulullah apa yang telah ia perbuat. Abu Darda berkata; Rasulullah rasulullah pun marah, hingga Abu Bakr berkata; ‘Demi Allah ya Rasulullah, Akulah yang telah berbuat zhalim. Rasulullah rasulullah bersabda: ‘Bukankah kalian pernah meninggalkan sahabatku untukku, Bukankah kalian pernah meninggalkan sahabatku untukku?. Sesungguhnya aku pernah berkata; Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku adalah utusan kepada kalian semua, lalu kalian katakan; ‘Anda telah berdusta, namun Abu Bakr berkata; ‘Anda benar.’

[Shahih Bukhari 4274]

[Ternyata Rasulullah rasulullah juga pernah marah kepada mereka yang membuat Abu Bakar RA marah & sedih]. Apakah Syiah mau berkata Allah SWT marah karena kemarahan/kesedihan Abu Bakr RA?]

Bukan hanya itu saja, Rasulullah rasulullah pernah marah untuk orang yang lemah & lanjut usia… kita lihat di Shohih Bukhori:

Contoh 1.

Abu Mas’ud RA meriwayatkan “Seorang laki-laki datang kepada Nabi rasulullah sambil berkata; “Sesungguhnya aku akan mengakhirkan shalat subuh karena fulan yang memanjangkan (bacaannya).” Abu Mas’ud berkata; “Maka aku tidak pernah melihat Rasulullah rasulullah sangat marah dalam menyampaikan nasihatnya melebihi marahnya beliau pada hari itu, Abu Mas’ud melanjutkan; “Lalu beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya di antara kalian ada yang menjadikan orang-orang lari (dari keta’atan), barangsiapa di antara kalian shalat dengan orang banyak, hendaklah ia memperingan shalatnya, sebab di antara mereka ada orang yang lemah, orang yang sudah lanjut usia dan orang yang mempunyai keperluan.”

[Shahih Bukhari 5645]

Berarti Rasulullah rasulullah juga marah untuk budak. Jadi Rasulullah rasulullah marah untuk banyak orang, bukan hanya untuk putrinya atau Ahlulbait saja.

Ternyata Rasulullah rasulullah juga pernah marah ke Ali RA

`Ali b. Abi Talib meriwayatkan; Rasulullah rasulullah pernah diberi hadiah pakaian yang dijahit dengan sutera, kemudian beliau memberikannya kepadaku dan aku pakai, tiba-tiba aku melihat tanda kemarahan di wajahnya, beliau bersabda: Aku tidak memberikannya kepadamu untuk kamu pakai, tetapi aku memberikannya kepadamu agar kamu jadikan kerudung untuk para wanita….

[Shahih Muslim 3862]

Nabi maksum juga marah ke Nabi maksum lainnya. Kita lihat di al Qur’an

Contoh 1.

“Dan ketika Musa kembali ke kaumnya, marah dan sedih, dia berkata, “Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia: “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu?” Dan Musa pun melemparkan luh-luh  [Taurat] itu dan memegang [rambut] kepala saudaranya [Harun] sambil menariknya ke arahnya. Harun berkata: “Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim”.” [QS 7:150]

Contoh 2.

Berkata Musa: “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, [sehingga] kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah [sengaja] mendurhakai perintahku?” Harun menjawab: “Hai putera ibuku janganlah kamu pegang janggutku dan jangan [pula] kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata [kepadaku]: “Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku.” [QS 20:92-94]

Ulama Syiah al-TabaTabai menulis di tafsirnya:

Arti jelas dari konteks ayat itu serta dalam Surah Taha di kisah ayat-ayat ini adalah kemarahan Musa pada Harun

dia juga menulis:

“Dia menarik janggut dan kepalanya dengan marah untuk memukulnya”

dan akhirnya TabaTabai menulis:

“Walaupun Harun yang benar”

Jadi ulama Syiah Tabatabai mengakui seorang maksum penerima wahyu pun bisa marah ke maksum lainnya, tapi yang benar adalah yang dimarahi bukan yang memarahi.

Hadis Syiah pun membenarkan Allah SWT akan murka kepada siapa saja yang menyakiti hambanya, bukan hanya Fatimah RA & Ahlulbait RA saja. Di al-Kafi 2/350:

Hisham bin Salim berkata: Saya mendengar abu `Abdillah AS berkata: Allah azza wa jalla berfirman: “Siapa yang menyakiti hambaKu yang beriman, maka Aku nyatakan perang atasnya, tapi siapa yang memperlakukan hambaKu yang beriman dengan kebaikan, maka Aku akan selamatkan dirinya dari kemarahanKu”

al-Majlisi berkata “Sahih” 10/377.

Bukan hanya orang seperti itu membuat Allah marah, tapi juga membuatNya murka dan seperti perang melawanNya.

Anehnya Syiah meriwayatkan, bukanlah sifat Fatimah RA untuk tetap marah ketika ada yang berbuat salah kepadanya, dari al-Kafi 2/107:

`Abdullah bin Sinan dari abu `Abdillah AS: Rasulullah rasulullah bersabda di kutbahnya: “Inginkah kuberitahu makhluk paling mulia di dunia ini dan di akhirat? Orang yang memaafkan orang yang menindasnya dan orang yang mengunjungi orang yang meninggalkannya dan memperlakukan dengan baik orang yang berbuat salah kepadanya dan orang yang memberi ke orang yang mengambil bagiannya”

Majlisi berkata “Hasan kal-Sahih” 8/192.

Jadi misalkan benar tuduhan Syiah bahwa Abu Bakar RA penindas, maka itu sebuah kisah yang juga merendahkan status Fatimah RA sebagai pendendam.

Jangan heran di hadis Sunni, dari riwayat `Amir al-Sha`bi, kita bisa temukan bahwa walaupun Abu Bakr RA benar dalam soal Fadak, beliau tetap berkunjung ke rumah Fatimah RA yang kemudian membuatnya terhibur. Itulah contoh kemuliaan Fatimah RA, bukan seperti Fatimah versi Syiah yang mendendam sampai akhir hayatnya karena perbedaan pendapat tentang sebuah tanah.

Iklan