“Awal bulan Januari 2015 adalah Minggu Persatuan Sunni Syiah untuk merayakan Konferensi Persatuan Islam Internasional ke-28 (7-9 Januari 2015) yang diadakan di Iran. Tapi tanggal 9 Januari 2015, pasukan keamanan Syiah Iran melarang Sunni sholat Jum’at di daerah Pounak, Tehran Utara”  (GoogleMap)

Pasukan keamanan Iran melarang jamaah Sunni masuk ke tempat sholat di Tehran hari Jumat 9 Januari 2015, mencegah mereka untuk mengadakan sholat Jumat berjamaah.

Syiah Indonesia beralasan Sunni dilarang mengadakan sholat Jumat, karena di Iran Sunni-Syiah mesti sholat Jumat bersama & hanya di satu tempat. Alasan sebenarnya adalah mayoritas Syiah di Iran tidak sholat Jumat karena itu bukanlah sebuah kewajiban. Dahlan Iskan pun menuliskan keterkejutannya dalam artikel di blog pribadinya

tidakjumat_dahlaniskan

Pasukan keamanan datang Jumat pagi ke Pounak di Tehran, dimana mereka menutup jalan ke tempat sholat Sunni itu dan mencegah jamaah masuk ke dalam gedung [gedung untuk sholat Sunni di Tehran bukanlah masjid resmi, karena di Tehran tidak ada masjid Sunni dengan izin resmi].

Pengurus tempat sholat itu juga dihubungi Kamis malam oleh anggota pasukan keamanan, yang memberitahukan mereka bahwa, “Mereka [Sunni] tidak memiliki hak” untuk mengadakan sholat Jumat berjamaah minggu ini.

Operasi yang direncakan ini sepertinya sengaja dijadwalkan untuk dilakukan pada hari terakhir “Minggu Persatuan” Syiah Sunni, yang jatuh pada hari Senin 5 Januari.

Rejim Iran mengklaim “Minggu Persatuan” adalah bukti bahwa mereka tidak memusuhi Sunni Muslim dan mengklaim bahwa itu bukti mereka menganggap Sunni sejajar dengan Syiah.

Namun tindakan aparat hari ini, menyampaikan pesan yang jelas ke Sunni di Tehran bahwa “Minggu Persatuan” tidak lain hanyalah slogan kosong.

Walaupun Sunni adalah minoritas agama terbesar di mayoritas Syiah Iran, dengan data yang menunjukkan bahwa ada lebih dari 1 juta Sunni tinggal di Tehran, Pemerintah Iran mencegah masjid Sunni dibangun di Tehran [Gereja kristen, Sinagoga Yahudi dibolehkan].

Warga Sunni di Tehran sebaliknya dipaksa untuk menyewa ruangan dan tempat sebagai “namaz khaneh” (tempat sholat) untuk mengadakan sholat berjamaah, dengan berbagai pembatasan yang memaksa sebagian untuk mengadakan sholat di rumah-rumah mereka dan tempat-tempat pribadi.

Tempat-tempat sholat itu sering mendapat serangan dari aparat yang mencegah Muslim Sunni untuk memakainya, yang menyebabkan Human Rights Watch (HRW) mengeluarkan pernyataan mengimbau Iran untuk “mencabut pembatasan (aktivitas) ibadah Sunni”.

Sunni yang dipersulit mendapatkan izin membangun rumah ibadah oleh rejim Syiah Khameini di Iran, terutama di daerah mayoritas Syiah yang akhirnya bisa disegel/ditutup dengan alasan tempat ibadah liar tanpa izin

Membangun masjid resmi yang diurus oleh Sunni pun tidak boleh di ibukota Iran, Tehran

Baca – Masjid “Liar” Sunni Ditutup Aparat Keamanan Rejim Khamenei

Iklan