[PERHATIAN, untuk mengerti pembahasan di artikel ini, anda perlu mengerti apa itu Tadlis & Sighat as-Sama’] – baca penjelasannya di artikel “Pernyataan Mendengar Hadis Antara Sunni Dan Syiah”

Tuduhan terhadap Khalid adalah salah satu dari banyak isu & fitnah yang sering diulang-ulang oleh Syiah untuk mendukung kepercayaan sesat mereka bahwa Sahabat adalah sekelompok manusia yang rusak dan bejat.

Untuk menilai kebenaran kabar, semestinya kita mengumpulkan semua narasumber yang membicarakan kejadian itu, secara umum maupun khusus, dan yang kedua, secara obyektif melihat secara kritis kebenaran kabar-kabar tersebut.

Untuk memvonis seseorang, apalagi Sahabat RA sebagai orang yang korup, bejat dan tidak beragama hanya karena beberapa kabar tidak jelas, lalu keras kepala menolak bersikap kritis terhadap kabar itu & kabar lainnya, maka bisa disimpulkan ada agenda terselubung dibalik sikap tersebut. Seperti kita ketahui, di agama Syiah, berdusta adalah 9/10 bagian agama mereka [lihat bagian akhir video “Taqiyah adalah 9/10 Agama Syiah”]

Sudah menjadi kebiasaan Syiah ketika mempropagandakan kepercayaan sesat mereka, Syiah selalu menolak seluruh ayat al-Qur’an maupun Hadis yang JELAS memuji para Sahabat. Begitu juga di kejadian ini, Syiah menolak semua Hadis Shahih dimana Rasulullah rasulullah bersabda tentang keutamaan & kemuliaan Sahabat. Sebaliknya mereka akan berpegang kepada kabar-kabar LEMAH & TIDAK JELAS untuk mendukung propaganda mereka.

Yang ketiga, Syiah selalu menutup mata terhadap banyaknya pengorbanan & perjuangan yang dilakukan para Sahabat untuk Islam. Sebuah titik hitam atau kesalahan sekecil apapun dari seorang Sahabat Rasulullah rasulullah dan para pejuang Islam itu, biarpun kabar itu tidak jelas atau ternyata kabar palsu, sudah cukup bagi Syiah untuk membesar-besarkan & menganggap perjuangan, pengorbanan sahabat selama bertahun-tahun tidak ada artinya, walaupun  perjuangan mereka sudah dipuji oleh Allah dan RasulNya di al-Qur’an & Hadis.

Jangan heran Syiah sangat membenci Khalid bin Walid RA, karena beliau juga salah satu panglima perang yang berhasil menghancurkan Kekaisaran Majusi Persia Iran, pada masa khilafah Umar RA. Itu sebab Syiah sangat membenci Umar RA dibanding sahabat lainnya [lihat video “Mengapa Syiah membenci Umar RA?“]

Mari kita bahas 2 poin penting tuduhan ini.

  1. Tuduhan Khalid Sengaja Membunuh Seorang Sahabat
  2. Tuduhan Khalid Memperkosa Istri Seorang Sahabat

1. Tuduhan Khalid Sengaja Membunuh Seorang Sahabat

Tidak lama setelah wafatnya Rasulullah rasulullah, banyak suku Arab yang murtad. Salah satu sebabnya adalah mereka menolak kewajiban salah satu Rukun Islam, yaitu zakat. Sebagian mengibaratkan zakat seperti upeti, sehingga ketika Rasulullah rasulullah wafat, maka perintah zakat batal, padahal di al-Qur’an Allah SWT hampir tidak pernah sholat disebutkan tanpa disandingkan dengan zakat.

Dari Madinah, Sayyiduna Abu Bakar RA mengirim beberapa pasukan ke berbagai daerah. Khalid ibn Walid ditugaskan memimpin salah satu pasukan itu.

Setelah kemenangan beliau atas beberapa suku murtad, Khalid RA pergi menuju ke suku murtad yang lain, Banu Sulaym. Dalam perjalanan pasukannya melewati daerah Banu Tamim. Malik ibn Nuwayrah adalah anggota suku itu dan dia bertugas sebagai pengumpul zakat. Terdengar kabar bahwa Malikpun tidak mau membayar zakat. Bahkan diduga dia berkata yang tidak pantas tentang Rasulullah rasulullah (1) dan menghinanya (2)

Sayyiduna Khalid ditugaskan oleh Sayyiduna Abu Bakar RA untuk menyelidiki apa yang dilakukan suku-suku Arab di berbagai daerah yang dilewatinya, untuk mengetahui apakah mereka masih Muslim atau sudah murtad. Jika mereka mendengar azan dan melihat orang-orang sholat, maka mereka Muslim, jika tidak maka itu sebuah tanda mereka bukan Muslim (3) Berkaitan dengan Banu Tamim, mata-mata Sayyiduna Khalid RA berbeda pendapat: beberapa mengklaim mereka tidak sholat, sementara yang lain berkata mereka sholat (4) Menurut sebuah kabar, muazzin mereka yang bernama Abul Jalal, tidak ada, yang menyebabkan tidak terdengar azan (5) Bahkan ada juga kabar bahwa mereka bertarung dengan Malik dan pengikutnya di Wadi al-Ba‘udah (6) Mereka yang melawan, termasuk Malik, ditangkap dan dibawa ke hadapan Sayyiduna Khalid. Dia memutuskan mereka mesti dihukum mati. Itulah sebab Malik ibn Nuwayrah dibunuh. [red: bukan berarti kami menganggap semua kabar ini benar, tapi hanya untuk memperlihatkan banyak riwayat lain yang Syiah sengaja tidak kutip]

Di pasukan Sayyiduna Khalid, seorang Sahabat Sayyiduna Abu Qatadah berkata bahwa mereka melihat pengikut Malik sholat. Wajar jika kemudian dia tidak setuju dengan keputusan Sayyiduna Khalid dan mengadu ke Sayyiduna Abu Bakar RA. Sayyiduna Umar RA bersikeras bahwa Khalid mesti dipecat dari posisi panglima pasukan dikarenakan keputusannya yang Umar RA anggap tidak hati-hati. Khalid kemudian dipanggil kembali ke Madinah dan diinterogasi oleh Khalifah yang kemudian memutuskan apa yang dia lakukan adalah sebuah kesalahan, tapi bukan alasan untuk memecatnya (7)

Seorang Syiah berkata keputusan Abu Bakar RA tidak menghukum Khalid RA adalah bukti kebejatan dia.  Syiah itu kesal karena saya menyebut ulama Syiah kebanggaan dia, al-Majlisi seorang zindiq. Dia berkata semestinya Abu Bakar RA juga disebut demikian karena keputusan itu. Padahal al-Majlisi memang layak disebut zindiq bahkan kafir karena dia percaya al-Qur’an tidak asli lagi [Lihat video ini –  “Ayatulah Kamal Haydari membenarkan isu ulama besar syiah Iran, Al Majlisi memang percaya Al Qur’an diubah sahabat & tidak asli lagi“]

Keputusan Sayyiduna Abu Bakar RA itu berdasarkan 2 alasan:

1. Hadis Rasulullah rasulullah yang memberikan Khalid julukan Sayfullah “Pedang Allah”

Anas radliallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengumumkan kematian Zaid, Ja’far dan Ibnu Rawahah di hadapan orang banyak sebelum berita kematian sampai kepada mereka. Beliau bersabda: “Semula bendera perang dipegang oleh Zaid lalu dia gugur kemudian bendera itu diambil alih Ja’far lalu dia pun gugur kemudian diambil alih oleh Ibnu Rawahah namun dia pun gugur pula” – seraya kedua mata beliau berlinang – “akhirnya bendera itu diambil oleh Sayf (pedang) diantara pedang-pedang Allah hingga Allah memberi kemenangan kepada mereka [Shahih Bukhari Kitab al Maghazi Hadis no 3929]

2. Kejadian yang mirip juga terjadi di masa Rasulullah rasulullah masih hidup dan juga terhadap Khalid ibn Walid. Khalid ditugaskan oleh Rasulullah rasulullah ke Banu Jazimah. Ketika Khalid menyuruh mereka masuk Islam, mereka tidak menjawab dengan “aslamna” (kami sudah masuk Islam) tetapi “saba’na, saba’na” (kami sudah menganut Sabiiyah), tapi juga bisa diartikan mereka sudah berubah agama (dari Islam), sehingga Khalid memerintahkan mereka dihukum mati. Ketika kabar itu sampai ke Rasulullah rasulullah, beliau mengangkat tangannya dan bersabda, “Ya Allah, sesungguhnya saya berlepas diri dari apa yang dilakukan Khalid” (8)

Walaupun Rasulullah rasulullah berlepas diri dari perbuatan Khalid yang tidak hati-hati itu, Rasulullah rasulullah tidak menghukumnya, karena itu sebuah kesalahan yang tidak disengaja.

Itulah mengapa Rasulullah rasulullah setelah kejadian itu, tetap menugaskan Khalid untuk memimpin banyak misi lainnya. Tidak lama setelah insiden Banu Jazimah, Rasulullah menugaskan Khalid memimpin misi untuk menghancurkan Kuil ‘Uzza di Nakhlah (9) Pada Jumadil Ula tahun 10H, dia ditugaskan berdakwah ke Banu Harits ibn Ka‘b dan mereka masuk Islam di tangan Khalid tanpa jatuhnya setetes darahpun (10) Khalid juga ditugaskan oleh Rasulullah untuk memimpin pasukan ke Ukaydir ibn AbdulMalik (11)

Salah satu jasa besar Khalid RA terjadi di perang Mu’tah pada tahun 8H, ketika beliau membuktikan keberanian dan kejeniusan taktik militernya dengan menyelamatkan hari itu demi Islam dan Umat Muslim dalam peperangan pertama mereka melawan Kekaisaran Romawi. Tiga jendral yang ditunjuk oleh Rasulullah rasulullah, semuanya syahid satu demi satu dan bendera Islam kemudian dipegang oleh pejuang gagah berani Sayyiduna Khalid yang dengan kejeniusannya berhasil menyelamatkan pasukan Islam dengan taktik pura-pura mundurnya yang terlihat seperti sebuah kekalahan.

Rasulullah rasulullah diberitahu Allah tentang apa yang terjadi di Mu’tah dan walaupun airmatanya berlinang dengan syahidnya sepupu tercinta beliau Ja‘far ibn Abi Talib RA, anak angkatnya Zaid ibn Haritsah RA dan Abdullah ibn Rawahah RA, beliau memberi kabar gembira kepada Muslim di Madinah dengan bersabda “Akhirnya bendera itu diambil oleh Sayf (pedang) diantara pedang-pedangnya Allah hingga Allah memberi kemenangan kepada mereka” (12)

Sikap Rasulullah rasulullah terhadap Khalid itulah yang dijadikan pertimbangan Abu Bakar RA dalam memutuskan masalah ini. Abu Bakar RA berpendapat bahwa Khalid telah membuat keputusan yang salah dan ketika Sayyiduna Umar RA bersikeras agar Khalid dipecat,

Sayyiduna Abu Bakar RA berkata: “Saya tidak akan menyimpan pedang yang dikeluarkan Allah”(13)

Seperti halnya Rasulullah membayar diyat di insiden Banu Jazimah, Sayyiduna Abu Bakar RA membayar diyat ke saudara Malik, Mutammim, dan menyuruh membebaskan semua tawanan yang ditangkap pasukan Khalid (13)

2. Tuduhan Khalid Memperkosa Istri Seorang Sahabat

Walaupun tuduhan pemerkosaan sama sekali tidak disinggung ketika Abu Bakar RA menginterogasi Khalid, tapi seiring dengan waktu, muncullah bumbu tambahan dalam cerita ini. Khalid, disebutkan terbuai dengan kecantikan istri Malik sehingga itulah alasan sebenarnya mengapa dia membunuhnya. Bertambah kisah cinta tragis ala sinetron.

Dengan tuduhan separah ini, semestinya kita akan mudah mendapati kabar yang dapat diandalkan untuk mendukung tuduhan itu. Namun kenyataannya, semua kabar tentang itu hanya kepingan-kepingan dari kutipan penulis kitab sejarah. Tapi tuduhan itu semua tidak akan ada artinya jika tidak bisa dibuktikan. Memang Syiah suka membawakan referensi lengkap dengan jilid dan halaman kitab, tapi tidak mampu mencek kebenaran “fakta” itu.

Imam Abdullah ibn Mubarak yang katanya pantas diabadikan & ditulis dengan emas berkata:

Isnad (rantai riwayat) itu sebagian dari Din (agama). Tanpa isnad, semua orang bisa berkata apa saja yang dia mau (14)

Tapi untuk Syiah, Isnad adalah musuh agama mereka, karena dengan Isnad mereka bahkan tidak bisa membuktikan kelahiran Imam Mahdi mereka [lihat video “Ayatulah Syiah Mengakui Tidak Ada Bukti Hadis Shahih Tentang Kelahiran Mahdi”]

Setelah memperhatikan seluruh riwayat tentang tuduhan pemerkosaan ini, semuanya adalah riwayat terputus atau disampaikan oleh periwayat yang tidak bisa diandalkan. Semua riwayat yang sering dikutip itu bisa kita kategorikan menjadi:

  1. Riwayat yang tidak menyebutkan istri Malik dan
  2. Riwayat dimana istri Malik disebutkan

Kategori 1, berisi riwayat yang disampaikan lewat isnad yang bisa diandalkan maupun tidak. Sedangkan untuk Kategori 2 disampaikan lewat isnad yang sangat tidak bisa diandalkan yang memiliki 2 kekurangan, identitas periwayat yang tidak dipercaya/tidak diketahui dan rantai riwayat terputus.

Mari kita lihat riwayat tentang istri Malik yang dikutip di Tarikh Tabari dan al-Isabah Ibn Hajar:

(1) “Khalid menikahi Umm Tamim Bint Minhal, dan menunggu sampai dia selesai iddah” (15)

Riwayat ini dimuat di Tabari dengan isnad seperti dibawah ini:

at-Tabari— (meriwayatkan dari)— as-Sari ibn Yahya— (yang meriwayatkan dari) — Shuaib ibn Ibrahim— (yang meriwayatkan dari)— Sayf ibn Umar— (yang meriwayatkan dari)— Sahl (yang meriwayatkan dari)— Qasim (ibn Muhammad) dan Amr ibn Shuaib, yang berkata…

Isnad ini sangat tidak bisa diandalkan karena beberapa hal. Pertama, karena ada Sayf ibn Umar at-Tamimi, yang para ahli rijal setuju akan kelemahannya. Ibn Hibban menulis tentangnya: “Dia meriwayatkan cerita palsu dari periwayat andalan. Mereka (ahli rijal) berkata dia suka memalsukan hadis” Dia menambahkan bahwa Sayf dicurigai seorang zindiq (16)

Lucunya, para Syiah memprotes riwayat Sayf tentang Abdullah ibn Saba, (walaupun riwayat itu tidak hanya datang dari Sayf, tapi didukung riwayat dari jalur perawi lain & juga dari ulama terdahulu Syiah sendiri). Tapi anehnya sekarang, Sayf yang Syiah tolak mentah-mentah ketika mengabarkan keberadaan bin Saba, kemudian mereka terima ketika mengabarkan cerita yang menjelek-jelekkan Sahabat. Aneh bin ajaib!!

Masalah kedua adalah orang yang meriwayatkan dari Sayf, yaitu Shuaib ibn Ibrahim. Menurut Ibn Hajar di Lisan al-Mizan, dia adalah majhul/tidak dikenal. Beliau mengutip Ibn ‘Adi yang berkata: “Dia tidak dikenal. Dia meriwayatkan hadis dan berita sejarah tidak kuat, dan dimana ada unsur prasangka terhadap Salaf (termasuk sahabat). ”(17)

Apakah bisa diterima pemakaian informasi yang disampaikan orang-orang yang tidak bisa diandalkan ataupun dikenal hanya untuk menjelekkan orang yang Rasulullah rasulullah sebut “salah satu Pedang Allah” dan juga disebut di al Qur’an:

“…Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu…” (al-Hadid 10)

Khalid ibn Walid menjadi Muslim sebelum Fathul Mekkah.

Masalah ketiga, adalah sumber Sayf yaitu Sahl ibn Yusuf al-Ansari. Seperti halnya Shuaib ibn Ibrahim, dia juga majhul/tidak dikenal (18) Jadi bagaimana bisa diterima riwayat darinya jika identitas dia juga tidak jelas, apalagi ini berkaitan dengan tuduhan pemerkosaan yang dilakukan Sahabat yang dipuji & dipercaya Rasulullah rasulullah

Misalkan, kita anggap isnad ini tidak cacat sampai ke Sahl ibn Yusuf, tetap saja kabar ini bermasalah, karena orang yang diklaim meriwayatkannya, yakni Qasim ibn Muhammad dan Amr ibn Shuaib belum lahir ketika Malik ibn Nuwayrah dihukum, jadi riwayat ini terputus. Jadi dari sisi manapun juga, riwayat ini tidak memenuhi 2 syarat dasar dari keshahihan sebuah kabar: semua periwayatnya dipercaya/diandalkan dan tidak terputus isnadnya.

Kita lihat lagi riwayat lainnya dari Tarikh at-Tabari:

(2) Umar berkata kepada Khalid: “Engkau adalah musuh Allah! Engkau membunuh Muslim dan kemudian mengambil istrinya. Demi Allah, saya akan rajam engkau” (19)

Riwayat ini dimuat di Tabari dengan isnad seperti dibawah ini:

at-Tabari— (meriwayatkan dari)— (Muhammad) ibn Humayd (ar-Razi)— (meriwayatkan dari) — Salamah (ibn al-Fadl ar-Razi)— (meriwayatkan dari)— Muhammad ibn Ishaq— (meriwayatkan dari)— Talhah ibn Abdillah ibn AbdurRahman ibn Abi Bakar— yang berkata bahwa itu menjadi perintah Abu Bakar as-Siddiq untuk pasukannya…

Isnad ini juga cacat dan tidak bisa diandalkan. Ini karena Muhammad ibn Ishaq, walaupun seorang sejarawan yang lebih dipercaya daripada Sayf ibn Umar, tapi sering melakukan tadlis. Tadlis adalah ketika seorang periwayat meriwayatkan sebuah kabar padahal dia tidak mendengar langsung dari mulut sumbernya.

Kalau belum baca link di awal artikel ini, SANGAT PENTING anda membacanya untuk lebih mengerti pembahasan setelah ini. [baca penjelasannya di artikel “Pernyataan Mendengar Hadis Antara Sunni Dan Syiah”]

Ibn Hibban berkomentar tentang dia: “Masalah dari Ibn Ishaq adalah bahwa dia sering menghilangkan nama-nama periwayat yang tidak bisa diandalkan, pada akhirnya banyak riwayat lemah yang masuk di dalam riwayat-riwayat dia. Namun, jika dia dengan jelas menyatakan bahwa dia mendengar langsung dari orang yang dia sebutkan sebagai sumbernya, maka riwayat dia itu diterima.” (20)

Ketika kita meneliti bagaimana Ibn Ishaq meriwayatkan insiden dari Talhah ibn Abdillah ibn AbdurRahman ibn Abi Bakar, kita dapatkan bahwa Ibn Ishaq tidak dengan jelas menyatakan mendengar langsung kabar ini dari Talhah. Dia memakai Sighat al-Sama’ ‘an, yang sering digunakan oleh periwayat yang melakukan Tadlis. Ibn Ishaq, menurut Ibn Hajar, terkenal dalam tadlis dengan menghapus nama orang tidak dikenal & lemah, dan bahkan dari periwayat yang dikenal lemah karena sebab yang serius (21)

Selain Ibn Ishaq sendiri, perlu diketahui periwayat selain dia yakni, Muhammad ibn Humayd ar-Razi, sangat dikritik oleh para Alim Hadis/Muhadisin. Banyak dari mereka yang menganggap dia pembohong. Dia juga terbukti tidak jujur ketika mengklaim meriwayatkan Maghazi Ibn Ishaq dari Salamah ibn Fadl. Beberapa muhadisin yang pada awalnya berpendapat baik tentangnya akhirnya mengubah pendapat mereka ketika diketahui jelas bahwa orang itu adalah seorang pemalsu yang tidak punya malu. Bahkan seorang berkomentar: “Saya tidak pernah melihat seorang pendusta besar, kecuali 2 orang: Sulayman ash-Shadhakuni dan Muhammad ibn Humayd. Dia suka menghafal semua hadisnya, dan hadisnya sering bertambah panjang setiap hari.” (22)

Selain itu, sumber utama kabar tersebut belum lahir ketika Sayyiduna Umar RA diklaim berkata demikian ke Sayyiduna Khalid. Peristiwa ini terjadi saat Sayyiduna Abu Bakar RA masih hidup, tapi yang menceritakan hal ini adalah anak seorang cucunya — 3 generasi kemudian. Seperti halnya riwayat ke-1, riwayat ke-2 ini juga cacat karena terputus.

Yang pasti kita tahu bahwa Umar RA pada masa khilafahnya menunjuk Khalid RA sebagai salah satu panglima perang mujahidin yang berhasil mengalahkan pasukan Kekaisaran Majusi Iran. Jadi kalau benar Umar RA ingin merajam Khalid RA, mengapa malah menunjuknya menjadi panglima ketika beliau berkuasa? Sangat aneh.

Salesman Syiah paling hobi mengutip banyak kitab dengan tujuan untuk mengelabui Sunni awam. Mereka akan mengutip riwayat bukan hanya dari Tabari, tapi juga dari al-Bidayah wan-Nihayah-nya Ibn Katsir, al-Kamil-nya Ibn al-Atsir dll. Entah mereka tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, Ibn Katsir dan Ibn al-Atsir dan sejarawan pada masa mereka mengambil sumber dari at-Tabari dan menyatakan hal itu di mukadimah kitab mereka.

Jadi untuk apa Syiah mengutip 2,3,4 atau 100 kitab kalau sumber semua kitab itu sama, yakni at-Tabari. Dan at-Tabari sendiri tidak pernah mengklaim semua riwayat di kitabnya adalah benar. Bahkan sebaliknya dia menyatakan di mukadimah kitabnya:

Apa yang terkandung di dalam kitabku yang dikutip dari sumber masa lalu, yang pembacanya tidak terima atau pendengarnya merasa muak karena dia anggap itu tidak benar atau tidak ada artinya, ketahuilah bahwa berita-berita tersebut bukan datang dariku, tetapi dari orang yang menyampaikannya kepadaku. Aku hanya menyampaikannya seperti yang disampaikan kepadaku.

Riwayat ketiga, yang sering dikutip untuk menambahkan bumbu kisah cinta tragis dengan tujuan menjelekkan reputasi Sayyiduna Khalid RA adalah sbb:

(3) Khalid RA melihat istri Malik ibn Nuwayrah. Dia sangat cantik. Kemudian Malik berkata kepada istrinya, “Kamu sudah membunuhku,” maksudnya dia akan menjadi sebab kematiannya. Dan itu terjadi (23)

Riwayat diatas sering dikutip dari al-Isabah. Setelah diteliti, ternyata Ibn Hajar mengutipnya dari ad-Dala’il oleh Tsabit ibn Qasim. Tapi tidak bisa ditemukan satupun fakta tentang identitas penulisnya dari semua tarikh. Keterangan tentang dirinya juga tidak bisa ditemukan di kitab ulama seperti al-Bukhari, Ibn Abi Hatim, Ibn Hibban dan al-Khatib al-Baghdadi maupun ulama setelah mereka seperti Imam Zahabi dan Ibn Hajar. Tidak ada keterangan tentang siapa Tsabit ibn Qasim, kapan kitabnya ad-Dala’il ditulis, dan apa isinya. Bahkan kitab kontemporer seperti al-A‘lam karya az-Zirikli tidak memuat informasi apapun tentang siapa Tsabit ibn Qasim.

Jadi kita bisa menyimpulkan, walaupun cerita itu terlihat seperti kisah cinta tragis yang penuh sensasi, tapi hanyalah sebuah cerita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Sepertinya cerita ini berawal dari orang yang membenci Sayyiduna Khalid ibn al-Walid.

Sangat disayangkan karena ketidaktahuan Sunni akan ilmu hadis & sejarah mereka, para misionaris Syiah berhasil membuat sebagian Sunni bingung & terpengaruh propaganda murah Syiah itu. Semua perjuangan & pengorbanan Khalid dilupakan bahkan gelar “Sayfullah” yang diberikan oleh Rasulullah rasulullah juga dicemooh hanya karena beberapa kisah yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Demikian sikap orang yang sumber “kebenaran” agamanya berdasarkan cerita dongeng, bohong & tidak jelas [lihat video dimana Syiah bingung tentang identitas saksi kelahiran mahdi – “Saksi Mata Kelahiran Mahdi Adalah Sosok Fiktif“]

Seperti inilah taktik bulus agama Syiah Tanpa Malu Imamiyah.


1. Ibn Hajar, al-Isabah jilid 6 hal 36 (Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut);

Ibn Hibban, Kitab ath-Thiqat jilid 2 hal 164 (Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, kopi dari edisi Haiderabad)

2. al-Isabah jilid 6 hal 37; Tarikh at-Tabari jilid 2 hal 273 (Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut 1408/1988)

3. Khalifah ibn Khayyat, Tarikh hal 104 (edisi Dr. Akram Diya al-Umari, Dar Taybah, Riyadh, edisi kedua 1405/1985)

4. az-Zahabi, Siyar A‘lam an-Nubala jilid 1 hal 377 (edisi Shuaib al-Arnaut, Mu’assasat ar-Risalah, Beirut, edisi ketujuh 1410/1990)

5. Khalifah ibn Khayyat, Tarikh hal 105

6. idem. hal 104

7. idem. hal 105. Juga dikutip di Siyar jilid 1 hal 376

8. Sahih al-Bukhari Kitab al-Ahkam Hadi no. 6652

9. Sirat Ibn Hisham jilid 4 hal 1282 (Dar al-Fikr, Kairo)

10. idem jilid 4 hal 1448

11. idem jilid 4 hal 1378

12. Sahih al-Bukhari Kitab al Maghazi Hadis no. 3929

13. al-Isabah jilid 6 hal 37

14. Sahih Muslim jilid 1 hal 87 (dengan Syarh Imam Nawawi)

15. Tarikh at-Tabari jilid 2 hal 273 (Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut 1408/1988)

16. kutipan dari al-Mizzi, Tahdhib al-Kamal jilid 12 hal 326 (edisi Dr. B.A. Ma‘ruf, Mu’assasat ar-Risalah, Beirut, 1413/1992)

17. Lisan al-Mizan jilid 3 hal 176 (Dar al-Fikr, Beirut)

18. idem jilid 3 hal 146

19. Tarikh at-Tabari jilid 2 hal 274

20. Tahzib al-Kamal jilid 24 hal 428

21. Ibn Hajar, Ta‘rif Ahl at-Taqdis hal 38 (edisi Taha AbdurRa’uf Sa‘d, Maktabat al-Kulliyyat al-Azhariyyah, Kairo)

22. Tahzib al-Kamal jilid 25 hal 105

23. al-Isabah jilid 6 hal 37

Iklan