Sudah merupakan “sunnah” Syiah setiap kali mereka mencoba membela kepercayaannya, pada akhirnya mereka membantah kepercayaan sendiri bahkan menghina imam.

Hal yang sama dilakukan salah satu ulama terbesar Syiah sepanjang masa, al-Shaykh al-Mufid. Dalam kitabnya Rasa’il al-Ghaibah 3/3 al-Mufid mengutip sebuah bantahan kepercayaan imam gaib:

[Jika sebab gaibnya – yang berlangsung sedemikian lama – adalah jumlah besar musuh dan takut akan keselamatannya, maka (argumennya) pada masa datuk-datuknya (keadaan) lebih sulit dan musuh mereka lebih banyak, mereka lebih takut akan keselamatan mereka, tapi mereka tetap ada dan tidak bersembunyi dari pengikutnya atau absen, sehingga pengikutnya bisa mendapat keyakinan (akan kebenaran) dan membatalkan alasan kegaiban ini.]

Al Mufid menjawab argumen itu di halaman berikutnya 3/4:

Yang jelas dari situasi para imam (AS) sebelumnya adalah bahwa Taqiyah diperbolehkan atas mereka dari musuh-musuh mereka, mereka tidak diperintahkan untuk melawan dengan pedang ketika mereka ada karena tidak ada baik atau maslahatnya (perlawanan) itu. Para imam sebelumnya tidak diperintahkan untuk berdakwah, tapi ada banyak manfaat dari kunjungan majalis musuh-musuh, dan berbaur dengan mereka, inilah mengapa mereka menyatakan tidak bolehnya mengusung pedang dan tidak bolehnya meminta hak mereka soal kepemimpinan, sehingga para musuh tidak campur tangan akan keberadaan mereka di tengah-tengah masyarakat. Mereka (Imam) sudah memberitahu tentang bangkitnya Al Qaim (Mahdi) pada akhir jaman, seorang Imam seperti mereka, dengannya Allah mengangkat kegelapan dan menghidupkan kembali Sunnah dan memimpin umat, dia tidak bisa bertaqiyah pada kemunculannya

Jadi menurut Syaikh al-Mufid, para imam sebelumnya diperintahkan untuk bertaqiyah dan tidak mengumumkan kepemimpinannya atau melawan dengan pedang.

Kita jadi bertanya, bukankah Syiah percaya bahwa Husein memimpin revolusi keagamaan? Perjuangannya “MENYELAMATKAN” Islam dan dia melawan Pemimpin Tirani? Syiah bahkan menyebutnya sebagai “Revolusi Husayni”.

Untuk menyelamatkan doktrin gaib, al-Mufid malah mengkontradiksi kepercayaannya sendiri, dia berpendapat seolah-olah revolusi dengan pedang itu adalah perbuatan melawan perintah Allah karena Husein diperintahkan untuk bertaqiyah & tidak melawan, tapi beliau tidak melakukannya. Berarti Husein menurut al-Mufid telah melawan perintah Allah SWT.

Jadi pada dasarnya al-Mufid berkata Para Imam sebelumnya hidup di tengah-tengah masyarakat karena mereka diperbolehkan bertaqiyah, sedangkan Imam ke-12 menghilang karena dia dilarang untuk bertaqiyah.

Tapi apapun alasan yang dibuat, hasilnya tetap tidak akan bisa menyelamatkan agamanya karena kepercayaan batil akan selalu membantah diri sendiri…

Taqiyah dalam bahasa Arab artinya adalah takut atau hati-hati atau waspada akan sesuatu, dengan tujuan untuk melindungi diri sendiri dari sesuatu.

Kita bertanya, tidakkah Imam ke-12 bersembunyi karena waspada dan takut akan musuhnya, karena jika penguasa mengetahui niat aslinya, mereka akan membunuhnya? Bukankah hal itu pada dasarnya adalah Taqiyah??

Jadi imam ke-12 juga sedang bertaqiyah, bahkan lebih parah dari bapak & kakeknya! Mereka tidak bertaqiyah selama 1000 tahun lebih.

Hal ini dibenarkan oleh Ayatulah Al-Uzma al-Sayid Muhammad Sa’id al-Tabataba’i al-Hakim dalam kitabnya “al-‘Aqaid” ketika dia mencoba membantah pendapat bahwa kepercayaan imam gaib mengkontradiksi kepercayaan mesti adanya imam untuk menjaga dan membela agama dan menjawab semua pertanyaan para pengikutnya. Dalam jawabannya di “Usul al-`Aqidah” tentang pentingnya memiliki imamah agama di halaman 241-242, dia menulis:

[“Dia (Mahdi AS) terpaksa gaib karena keadaan dan kesukaran yang terjadi dikarenakan masyarakat tidak memenuhi kewajiban mereka  soal Imamah Suci yang diperintahkan oleh Allah untuk sebab-sebab diatas. Jadi kegaibannya (AS) adalah seperti Taqiyah bapaknya (AS) dari para penindas, atau hukuman penjara mereka, seperti saat mereka tidak bisa menjalankan tugas untuk menjaga agama tidak hilang dan korupsi.”]

Maka muncul lagi pertanyaan, bukankah berarti para imam sebelumnya telah membahayakan Mahdi karena mereka berkata dia akan mengalahkan pemimpin tirani? Jadi apa yang dilakukan para imam membuat penganut Syiah kehilangan petunjuk dan fatwa langsung dari Mahdi. Mestinya Imam berkata: “Allah akan memberikan kita kemenangan pada waktunya” tanpa menyebutkan akan dicapai Imam yang ke-12.

Pertanyaan terakhir adalah: KENAPA CUMA 12??? Kenapa tidak 24, 49, 86 Imam? Atau lebih pas lagi, kenapa tidak diam saja jadi imam setelah mereka bisa terus berada di tengah-tengah masyarakat dan memberi petunjuk umat. Yang ada sekarang Syiah malah bergantung kepada Ayatulah yang tidak maksum & memiliki pendapat berbeda-beda, bahkan banyak yang berseteru satu sama lain.

Jadi angka 12 ini justru mempersulit Syiah sehingga mereka mesti menunggu selama 1000 tahun lebih & kita tidak tahu sampai kapan dia akan terus bersembunyi, meninggalkan pengikutnya dipimpin & dibimbing orang-orang tidak maksum. Jadi pada akhirnya Syiah ikut-ikutan Ahlussunnah yang mereka kecam. Ironis!

Iklan