Mari kita lihat contoh beberapa pasal dari konstitusi Republik Iran yang mengkontradiksi kepercayaan syiah imamiyah dan justru mengikuti apa yang para sahabat lakukan.

Pasal 5
Pada masa gaibnya Wali al-Asr (semoga Allah mempercepat kedatangannya), wilayah dan kepemimpinan umat diserahkan kepada faqih yang adil dan bertaqwa, yang mengerti penuh keadaan di masanya; berani, gigih, dan memiliki kemampuan administratif, akan mengemban kewajiban jabatan sesuai dengan pasal 107.

Pasal 107
Setelah wafatnya yang terhormat marji’ al-taqlid dan pemimpin besar revolusi Islam dunia, dan pendiri Republik Islam Iran, Ayatullah al-‘Uzma Imam Khomeini – quddisa sirruh al-sharif – yang dikenal dan diterima sebagai marji’ dan pemimpin oleh mayoritas besar rakyat, tugas untuk memilih pemimpin akan diembankan kepada para ahli yang dipilih rakyat. Para ahli akan menilai dan berkonsultasi diantara mereka berkaitan dengan semua fuqaha yang memiliki kualifikasi yang disebutkan di pasal 5 dan pasal 109. Ketika mereka menemukan seorang yang lebih mengerti hukum Islam, masalah fikih, atau isu sosial dan politik, atau memiliki popularitas umum atau kelebihan khusus dalam kualifikasi yang disebutkan di pasal 109, mereka akan memilihnya sebagai pemimpin. Sebaliknya, jika tidak didapati kelebihan seperti itu, mereka akan mengangkat dan mendeklarasi salah satu dari mereka sebagai pemimpin. Pemimpin yang dipilih oleh Majelis Faqih akan memegang semua kekuasaan wilayat al-amr dan semua tanggungjawabnya. Pemimpin berkedudukan sama dengan rakyat dimata hukum.

Pasal 6
Di Republik Islam Iran, urusan kenegaraan dijalankan berdasar opini publik yang diekspresikan melalui pemilu, termasuk pemilu Presiden, wakil Majelis Musyawarah Islam, dan anggota majelis, atau melalui referendum dalam masalah yang ditentukan pasal lain di konstitusi ini.

Pasal 7
Sesuai dengan perintah Al Qur’an di ayat (“urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka” [42:38]) dan (“bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu” [3:159]),  badan musyawarah – seperti Majelis Musyawarah Islam, Majelis Propinsi, dan Kota, Daerah, Distrik, dan Desa dan lainnya – adalah pembuat keputusan dan badan administratif negara. Dasar majelis ini, bersama dengan cara pembentukannya, kekuasaan hukum, dan jangkauan fungsi dan tugasnya, ditentukan oleh Konstitusi dan hukum darinya.

==============AKHIR KUTIPAN KONSTITUSI===============================

Mari kita bandingkan isi konstitusi Iran itu dengan tulisan dari “al-Islam”, sebuah situs syiah terkenal. Artikel berjudul “Imamah: Perwakilan Nabi oleh Sayid Sa’id Akhtar Rizvi” (dia adalah bapaknya Muhammad Rizvi yang pernah mengecam Aliansi Anti Syiah di Indonesia – lihat videonya disini):

Dia menulis “Ketika Allah memerintahkan seseorang untuk melakukan sesuatu namun tahu bahwa orang itu tidak bisa atau sangat sulit melaksanakannya tanpa bantuanNya, maka jika Allah tidak memberikan bantuan ini, Dia telah mengkontradiksi tujuanNya. Tentunya, kelalaian itu (untuk memberikan bantuan) adalah kejahatan. Maka lutf adalah wajib untuk Allah.”

Komentar: Jadi Allah memerintahkan syiah untuk mengikuti Imam Ahlul-Bait (yang hanya ada 12 orang), tapi mereka tidak ada sekarang, jadi kesimpulan argumen diatas adalah Allah lalai dan melakukan kejahatan. Astaghfirullah!

“Syiah percaya bahwa, seperti Nabi, seorang Imam harus mengungguli seluruh umat dalam segala keutamaan, seperti ilmu, keberanian, ketakwaan dan amal, dan mesti memiliki pengetahuan sempura akan Hukum Ilahi. Jika tidak demikian, dan kedudukan tinggi ini dipercayakan kepada seorang yang kurang sempurna ketika ada orang yang lebih sempurna, yang kurang sempurna dipilih atas yang lebih sempurna, suatu hal yang salah menurut akal dan melawan Keadilan Ilahi. Maka dari itu, tidak ada orang yang tidak sempurna yang bisa menerima Imamah dari Allah ketika ada seorang yang lebih unggul darinya.”

Komentar: Syiah akan berkata Mahdi itu ada, tapi mereka dipimpin oleh Khameini, jadi memakai argumen mereka sendiri kesimpulannya adalah syiah telah melakukan sesuatu yang “salah menurut akal dan melawan Keadilan Ilahi”.

“Kedua, seorang Imam adalah pemimpin dan kepala umat dan umat mesti mengikutinya tanpa syarat dalam segala hal. Jika seorang melakukan perbuatan dosa, orang akan mengikutinya dalam hal tersebut. Ketidakbenaran posisi itu terbukti sendiri; karena ketaatan dalam kemaksiatan adalah kejahatan, tidak sah dan dilarang. Terlebih lagi, itu berarti bahwa dia mesti dipatuhi dan tidak dipatuhi pada saat yang sama; yakni, patuh kepadanya adalah wajib tapi juga dilarang, yang merupakan hal yang konyol.”

Komentar: Berarti mengikuti Khameini atau ayatulah lainnya adalah konyol karena mereka bisa berbuat dosa atau salah dan syiah bisa mengikuti mereka dalam kesalahan karena mereka tidak maksum.

“Keempat, Imam adalah pelindung Hukum Ilahi dan tugas ini tidak bisa dipercayakan ke tangan orang bisa berbuat salah ataupun orang seperti itu bisa menjaganya dengan benar. Karena alasan ini, kemaksuman telah diakui sebagai kondisi yang harus ada untuk kenabian; dan keadaan yang diperlukan untuk kenabian juga diperlukan untuk seorang Imam dan khalifah.”

Komentar: Jika kemaksuman diperlukan lalu kenapa memilih seorang yang tidak maksum seperti Ahmadinejad, Khameini kemudian mengikuti dan menjadikan mereka pemimpin atau belajar agama dari orang yang tidak maksum seperti para ayatulah?

“Oleh karena sebab inilah Syiah Itsna ‘Asyariah (Imam 12) percaya bahwa hanya Allah yang bisa menunjuk penerus Nabi; bahwa umat tidak punya pilihan tentang masalah ini-kewajiban kita hanyalah mengikuti Imam atau kalifah yang terpilih.”

“Sunni, sebaliknya, percaya adalah tugas umat untuk memilih seorang kalifah”

Komentar: Kenyataannya bukan cuma Sunni, tapi Syiah di Iran pun akhirnya memilih pemimpin mereka sendiri. Apakah Syiah percaya khomeini atau khameini dipilih langsung oleh Allah SWT?

“Ayat Qur’an berikut ini memperteguh pandangan Syiah:

Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)! (28:68).

Ini jelas memperlihatkan bahwa manusia tidak berhak untuk memilih; itu semua berada di tangan Allah”

Komentar: Beginilah jeniusnya syiah, mungkin ini juga berarti kita tidak bisa memilih untuk ke toilet yang mana atau baju apa yang kita mau pakai atau lauk apa yang kita akan makan.

“Jika yang maksum seperti malaikat tidak diberikan hak dalam penunjukan seorang kalifah, bagaimana bisa manusia yang tidak maksum berharap mendapat wewenang soal penunjukan itu di tangannya?”

Komentar: Mengapa tidak tanya ke imam ke-13 kamu, Khomeini atau imam ke-14, Khameini? Mengapa Syiah sekarang berwewenang untuk menunjuk pemimpin sendiri?

Jadi bisa kita lihat kalau agama Syiah selalu berubah-ubah dan penuh kontradiksi. Dulu mereka berbicara tentang pentingnya Imam yang mesti dipilih Allah, tapi setelah imam tidak ditemukan 1100 tahun lebih, akhirnya mereka membuat kepercayaan baru dengan berkata Imam maksum tidak perlu ada di tengah-tengah kita & dia bisa diwakilkan orang tidak maksum. Pada akhirnya ayatulah sekarang memilih pemimpin sendiri.

Syiah memilih Khameini sebagai pemimpin lewat majelis permusyawaratan ulama mereka & praktek itu mereka puji. Namun ketika sahabat di peristiwa Saqifah, memilih pemimpin sendiri dengan cara musyawarah diantara mereka, maka Syiah kecam dan kafirkan.

Demikian kemunafikan & standar ganda kelompok pelaknat sahabat ini yang pada akhirnya mengikuti apa yang sahabat lakukan.

Iklan