Hadis yang syiah kenal dengan nama Hadis Al Manzilah ini sangat mereka gandrungi  karena mereka beranggapan Nabi rasulullah bersabda menyamakan kedudukan Nabi rasulullah dengan Ali (ra) seperti Musa (AS) dengan Harun (AS) dan itu adalah bukti bahwa Ali (ra) adalah khalifah umat setelah Rasulullah rasulullah

Tapi apakah benar maksud dari hadis tersebut seperti yang syiah artikan? InshaAllah akan kita bantah lewat poin-poin dibawah ini:

1. Arti dan Maksud Hadis Al Manzilah

Ali (ra) adalah seorang saudara, penasehat dan khalifah. Sungguh demikian kualitas yang Ahlussunnah percayai. Dalam hal sebagai saudara, Ali (ra) bukanlah saudara kandung Nabi rasulullah dan kualitas seperti itu tidak hanya dimiliki Ali (ra).

Seperti kita tahu seorang muslim adalah saudara muslim lainnya. Allah SWT berfirman:

الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
{Orang-orang mukmin adalah bersaudara} QS 49:10

Dan juga Rasulullah rasulullah memiliki banyak penasehat yang beliau rasulullah minta pendapat dalam segala hal, di waktu perang maupun damai, yakni Abu Bakar (ra), Umar (ra), Usman (ra), Salman (ra) dan para sahabat lainnya. Jadi hal itu tidak hanya khusus ke Ali (ra).

Kita juga tahu bahwa Rasulullah rasulullah menunjuk sahabat lain untuk memimpin Madinah. Termasuk Ibn Um Maktum, Abu Lubaba, Abu Ruhm, Muhammad bin Maslama, Numaila bin Abdullah Al-Laythi, Uwaif bin Al-Adhbat, Siba’a bin Urfuta, and Ghalib bin Abdullah Al-Laythi. (Tarikh Khalifa hal 48). Dengan itu tidak diragukan lagi bahwa mereka juga berstatus seperti Harun (AS) yang ditugaskan mewakili oleh Musa (AS).

Namun lebih penting lagi, ada hubungan lain antara Harun (AS) & Musa (AS) yang tidak dimiliki Ali (ra), yaitu Harun (AS) mendapat status kenabian dengan permintaan Musa (AS). Sedangkan Nabi rasulullah memberitahukan kepada Ali (ra) bahwa Nabi rasulullah adalah Nabi terakhir dan tidak akan ada Nabi setelahnya.

Tetapi syiah bisa saja balik bertanya: “Lalu mengapa Rasulullah rasulullah membuat perbandingan kedudukan Ali (ra) seperti Harun (AS) dengan Musa (AS)?

Jawaban yang jelas bisa kita temukan setelah kita mengetahui konteks lengkap hadis itu.

Ibn Al-Hashimi mengutip dari Imam Az-Zahabi:
“Nabi rasulullah berangkat ke Tabuk dengan pasukan sebanyak 30000 orang dari Madinah…dan dia menunjuk Muhammad bin Maslamah Ansari memimpin al-Madinah…Nabi rasulullah juga menunjuk Ali (ra) untuk  mengawasi keluarga beliau. Kaum munafik memakai kesempatan itu untuk menyebar fitnah tentang Ali. Mereka berkata bahwa Nabi rasulullah meremehkan Ali (ra) dan karena itu meninggalkannya di Madinah. Ketika kesabarannya habis, dia (Ali ra) pergi dari Madinah dan menyusul Nabi rasulullah di al-Jurf dan mengadu: “Kaum munafik berkata ini dan itu tentang saya dan karenanya saya menyusulmu.” Rasulullah rasulullah bersabda: “Mereka adalah pembohong. Saya meninggalkanmu untuk menjaga keluargaku, jadi kembalilah.” Untuk menenangkan perasaannya, Nabi rasulullah menambahkan: “Engkau bagiku seperti Harun dengan Musa, kecuali tidak akan ada Nabi setelahku.” Ali (ra) kembali ke Madinah dalam keadaan tenang dan puas. [Tarikh al-Islam, Jilid 1 hal 232]

Konteks tersebut memperlihatkan lebih jelas apa maksud hadis yang sebenarnya. Jadi kita bisa bertanya kepada syiah,

  • Apakah Ali (ra) mengeluh ditinggal dan kemudian Nabi rasulullah memastikan kepadanya bahwa dia adalah saudaranya?
  • Atau Ali (ra) mengeluh ditinggal dan kemudian Nabi rasulullah memastikan kepadanya bahwa dia adalah penasehatnya?

Kedua jawaban itu tidak masuk akal mengingat konteks kejadian itu. Jadi pengertian yang terakhir dan benar adalah bahwa Nabi rasulullah menghibur Ali (ra) bahwa dia adalah khalifah di Madinah dan kedudukan itu sangat dicari seorang muslim dan itu adalah kedudukan yang pernah dijabat Harun (AS) ketika dia menjadi khalifah sementara untuk Musa (AS).

2. Hubungan sementara antara Harun (AS) dan Musa (AS)

Ahlussunnah mengakui bahwa Harun (AS) adalah saudara, penasehat Musa dan khalifah kaumnya. Kita mengakui bahwa itu adalah kedudukan Ali (ra), tapi pendapat kami adalah dua dari kedudukan itu (penasehat & khalifah) hanyalah kedudukan sementara.

Pertama, tidak diragukan lagi bahwa Ali (ra) dan semua mukmin adalah saudara Nabi rasulullah di dunia dan akhirat. Tapi dari sisi bahasa, tidak bisa diterima jika seseorang berpendapat bahwa Ali adalah penasehat Rasulullah rasulullah setelah beliau wafat, karena orang yang wafat tidak memiliki penasehat. Tidak ada orang waras yang percaya bahwa Ali (ra) akan pergi kekuburan Nabi rasulullah dan menasehatinya tentang taktik perang atau urusan politik negara.

Begitupula kedudukannya sebagai khalifah di Madinah adalah sementara, seperti halnya Ibn Um Maktoom, Abu Ruhm dll. Ketika Rasulullah rasulullah kembali ke Madinah, mereka juga mundur karena Nabi rasulullah kembali memimpin Madinah. Faktanya, itu cuma kedudukan sementara seperti khilafah sementara Harun (AS) yang diserahkan kembali kepada Musa (AS).

Dari konteks inilah terlihat jelas tidak ada kesan bahwa kedudukan Ali (ra) sebagai khalifah itu berlanjut setelah Rasulullahrasulullah kembali ke Madinah apalagi setelah wafat.

Ibn Al Hashimi mengutip dari Al-Qurtubi: “Tidak ada perbedaan pendapat bahwa Harun wafat sebelum Musa…dan (Harun) bukan penerus setelahnya (Musa), karena penerusnya (Musa) adalah Yusha bin Nun, jadi jika beliau (Nabi rasulullah) ingin dengan perkataannya (memberikan Ali) khilafah, beliau (Nabirasulullah) akan bersabda “engkau untukku seperti Yusha dengan Musa”

3. Apakah Ali akan menjadi Khalifah bila Rasulullah rasulullah wafat di Tabuk?

Syiah beralasan: “Jelas dari perkataan Musa (AS) bahwa peran Harun (AS) adalah khalifah dan penerusnya, mesti diakui demikian bahkan jika Harun (AS) wafat sebelum Musa (AS). Kenyataan bahwa beliau wafat dan tidak menjadi khalifah tidaklah mengubah fakta itu. Walaupun syiah mengakui Yusha bin Nun menjadi khalifah setelah Musa (AS) wafat, itu hanya dikarenakan Harun (AS) wafat sebelum Musa (AS), kalau itu tidak terjadi maka Harun (AS) akan menjadi Khalifah.”

Asumsi yang sangat menggelikan, karena dengan demikian berarti sahabat lain yang juga pernah ditunjuk Nabi rasulullah untuk memimpin Madinah otomatis akan menjadi khalifah jika Nabi rasulullah wafat pada saat itu. Kalau memakai rumus syiah itu berarti jika Nabi rasulullah wafat ketika Haji Al-Wada’a, berarti Ibn Um Maktum akan menjadi khalifah pertama umat muslimin. (Tarikh Khalifa hal 48)

……….ada hadis Syiah mirip yang menarik dibawah ini

مالك الاشتر قدس الله روحه ورضي الله عنه، جليل القدر، عظيم المنزلة، كان اختصاصه بعلي (عليه السلام) اظهر من ان يخفى، وتأسف
(أمير المؤمنين (عليه السلام) بموته، وقال: لقد كان لي كما كنت لرسول الله (صلى الله عليه وآله.

Ali RA berkata, ketika Malik al-Ashtar wafat: “Dia bagiku seperti aku bagi Rasul Allah”

Referensi: خلاصة الاقوال في معرفة الرجال – Hal 277
Karya: ‘Allamah al-Hilli (Ulama besar Syiah)

http://www.uofislam.net/uofislam/view.php?type=c_book&id=1360

Apakah itu berarti Malik al-Ashtar adalah imam maksum penerus Ali? Ayo Syiah bingung sendiri 😀

Iklan