Di pembahasan ini kita akan menyorot 2 hal penting dalam Ilm Hadis, yaitu Sighat al-Sama` dan Tadlis. Contoh perbandingan diambil dari kitab hadis Sunni, Sahih Bukhari dan kitab hadis Syiah Al-Kafi.

Kita mulai dengan membandingkan kata penyambung sanad atau mata rantai perawi (periwayat hadis) tentang wudu’, satu contoh dari al-Kafi dan satu dari Shahih Bukhari:

Contoh dari al-Kafi:

3937 – 1 –
علي بن ابراهيم، عن محمد بن عيسى، عن يونس بن عبدالرحمن، عن أبان وجميل، عن زرارة قال: حكى لنا أبوجعفر

[3937 – 1 – `Ali bin Ibrahim, dari Muhammad bin `Isa, dari Yunus bin `Abdul-Rahman, dari Abban dan Jamil, dari Zurarah bahwa dia berkata: Abu Ja`far (as) memberitahukan kepada kami dst…]

Contoh dari Shahih Bukhari:

(157) – [160]
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأُوَيْسِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، أَنَّ عَطَاءَ بْنَ يَزِيدَ أَخْبَرَهُ، أَنَّ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ أَخْبَرَهُ، أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ دَعَا بِإِنَاءٍ

[(157) – [160] Telah menceritakan kepada kami `Abdul-`Aziz bin `Abdullah al-Uwaysi berkata, telah menceritakan kepadaku Ibrahim ibn Sa`d dari Ibn Shihab bahwa `Ata’ bin Yazid mengabarkan kepadanya bahwa Humran budak Usman mengabarkan kepadanya bahwa ia telah melihat `Usman bin `Affan minta untuk diambilkan bejana air dst…]

Bisakah anda lihat perbedaan kata penyambung sanad kedua hadis itu? Orang yang awam tidak akan melihat banyak perbedaan diantara keduanya. Untuk itu InshaAllah kami akan mencoba menjelaskan secara singkat, betapa sangat besar perbedaan kata penyambung diantara keduanya.

Sighaht al-Sama` didefinisikan: “Kata yang dipakai perawi (periwayat) untuk menghubungkan dia dengan perawi berikutnya”. Kami kutip lagi kedua hadis diatas tapi dengan menambah huruf tebal perbedaannya.

Sighat-ul-Sama` di al-Kafi:

3937 – 1 –
علي بن ابراهيم، عن محمد بن عيسى، عن يونس بن عبدالرحمن، عن أبان وجميل، عن زرارة قال: حكى لنا أبوجعفر

[3937 – 1 – `Ali bin Ibrahim, dari Muhammad bin `Isa, dari Yunus bin `Abdul-Rahman, dari Abban dan Jamil, dari Zurarah bahwa dia berkata: Abu Ja`far (as) memberitahukan kepada kami dst…]

Sighat-ul-Sama` di Shahih Bukhari:

(157) – [160]
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأُوَيْسِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، أَنَّ عَطَاءَ بْنَ يَزِيدَ أَخْبَرَهُ، أَنَّ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ أَخْبَرَهُ، أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ دَعَا بِإِنَاءٍ

[(157) – [160] Telah menceritakan kepada kami `Abdul-`Aziz bin `Abdullah al-Uwaysi berkata, telah menceritakan kepadaku Ibrahim ibn Sa`d dari Ibn Shihab bahwa `Ata’ bin Yazid mengabarkan kepadanya bahwa Humran budak Usman mengabarkan kepadanya bahwa ia telah melihat `Usman bin `Affan minta untuk diambilkan bejana air dst…]

Setelah kita tahu apa itu Sighat-ul-Sama`, kita teruskan ke definisi lainnya yaitu “Tadlis”.

Definisi umum tadlis adalah: “Ketika seorang perawi, meriwayatkan dari Sheikh (atau guru) apa yang dia tidak dengar langsung dari mereka”. Jadi misalkan saya seorang perawi, mengabarkan perkataan anda, tapi saya sendiri tidak mendengar langsung perkataan itu dari anda, tapi saya mendengarnya dari orang lain atau membacanya dari buku atau dari mimpi atau dari cara apapun secara tidak langsung. Yang saya lakukan adalah “Tadlis” dan orang yang melakukan itu disebut “Mudallis”.

“Sighat-ul-Sama`” dan “Tadlis”, kedua hal ini sangat berkaitan dan selalu menimbulkan masalah untuk para ulama hadis masa lalu. Itu dikarenakan ada 2 tipe “Sighat-ul-Sama`”, yang pertama jelas dan yang kedua tidak jelas. Contohnya:

1- “Zayd berkata: `Amr menceritakan kepadaku”
Ini adalah tipe penyampaian yang kuat dan jelas dari Zayd bahwa dia mendengar apa yang akan dia sampaikan langsung dari mulut `Amr. Inilah tipe penyampaian favorit para Muhadis, karena setiap orang yang jujur dan tulus, apakah dia diketahui sebagai Mudallis atau bukan, jika dia memakai pernyataan seperti ini, maka hadisnya bisa diterima.

2- “Diriwayatkan oleh Zayd, dari `Amr” atau “Dari Zayd bahwa `Amr berkata”
Contoh ini kita tidak bisa memastikan bahwa Zayd mendengar langsung dari `Amr. Bisa saja dia mendengar riwayat itu dari orang lain. Ini bermasalah jika Zayd diketahui seorang Mudallis. Dalam hal ini, Muhadis akan berhati-hati ketika Zayd memakai pernyataan tidak jelas seperti itu.

Apakah Tadlis berbahaya? Jawabannya tentu iya. Seorang yang jujur dan terpercaya bisa saja mengabarkan hadis yang menurutnya dari seorang Syeikh terpercaya, dan orang-orang akan berpikir hadis itu shahih dan mereka akan beribadah kepada Allah berdasarkan hadis itu. Namun kemudian mereka mengetahui bahwa orang yang dipercaya & jujur itu tidak pernah bertemu dengan Syeikh yang hadisnya dia riwayatkan, tapi dia mendengar hadis itu dari orang lain yang bisa saja pembohong, pemalsu dan orang dengan karakter yang mencurigakan inilah yang mengklaim dia mendengar itu dari Syeikh tersebut. Dengan demikian bisa saja kita beribadah berdasarkan riwayat yang ternyata salah & tidak benar dikarenakan orang yang tidak jelas itu.

Perawi Sunni & Imam Hadis terkenal Shu`bah bin Al-Hajjaj (wafat 160 AH) sering berkata tentang gurunya: Saya akan memperhatikan perkataan Qatadah; jika dia berkata, “Saya mendengar,” kemudian, saya akan menulis riwayat itu. Tetapi, saya tidak akan menuliskannya jika dia tidak berkata demikian. (Mu’jam Al-Mudallisin hal 371)

Shu`bah dikenal dengan kehati-hatiannya akan Tadlis dan siapapun juga bisa dengan mudah mendapati kehati-hatian seperti itu dari para pendahulunya. Dan itu tetap berlangsung sampai ulama mengumpulkan ringkasan tentang Mudallisin, seperti yang ditulis oleh Al-Shathakuni, Al-Nasa’i, Al-Daraqutni, dan ulama sunni lainnya. Kemudian berlanjut ke kitab yang lebih besar oleh Abu Zur`ah Al-`Iraqi, Sibt Ibn Al-A`ajami, and Al-Suyuti, dari ulama setelahnya, dan juga oleh Ibn Hajar yang kitabnya memuat 153 periwayat terkenal yang dipercaya melakukan Tadlis. Ini terus berlanjut sampai sekarang dimana ulama sunni kontemporer mengumpulkan semua yang ditulis oleh ulama sunni masa lalu dan terus mempelajari segala aspek karya mereka, semua ini dengan tujuan untuk dipelajari para penuntut ilmu. Salah satu buku yang sangat bermanfaat adalah Riwayat Al-Mudallisin fi Sahih Al-Bukhari oleh Awwad Al-Khalaf, dimana dia membantah  semua dugaan bahwa ada hadis di Sahih Bukhari yang mengandung Sighah yang bisa dianggap Tadlis.

Contoh 1 hadis dari Sahih Bukhari: Dari abi Ishaaq, dari al-Bara’, dia berkata: “Ketika sahabat Rasulullah (saw) sedang membaca dan kudanya diikat…dst” [Bukhari #4839]

Perkataan: “dari al-Bara’”, itu dianggap tidak jelas. Riwayat seperti itu biasanya ditolak dan bisa dianggap Tadlis. Imam Bukhari mengetahui soal itu, tapi tetap dimuatnya karena beliau tahu bahwa abu Ishaaq memang mendengar langsung riwayat ini. Buktinya bisa ditemukan di kitab yang sama bab yang berbeda dimana tertulis: abu Ishaaq berkata, “Saya mendengar al-Bara’ bin `Aazib.” [Bukhari #3614].

Perlu ditekankan bahwa Imam Bukhari bukanlah seorang culas yang suka mengganti Sighaht al-Sama`yang tidak jelas dengan yang jelas. Bisa saja dia dengan mudah mengganti dari menjadi saya mendengar, tapi dia tidak melakukan hal itu. Siapa saja yang mempelajari Sahih Bukhari bisa menemukan ribuan contoh “dia menceritakan kepada kami,” dan “dia memberitahukan aku” dll

Kita ambil contoh betapa hati-hati dan perhatiannya Imam Bukhari dalam masalah ini bahkan di hadis pertama di kitab beliau:

(1)- [1]
حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ، قَالَ: أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ، أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ، يَقُولُ: سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ يَقُولُ

[[1] – (1) Telah menceritakan kepada kami al-Humaydi `Abdullah bin al-Zubayr, dia berkata:  telah menceritakan kepada kami, Sufiyan yang berkata bahwa telah menceritakan kepada kami, Yahya bin Sa`id al-Ansari berkata, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ibrahim al-Taymi, bahwa dia pernah mendengar `Alqamah bin Waqqas al-Laythi berkata: saya pernah mendengar `Umar bin al-Khattab diatas Mimbar berkata: Saya mendengar Rasulullah (saw) bersabda: dst…]

Kita bisa tahu betapa spesifiknya kata-kata diatas karena kita bisa juga menemukan hadis yang sama bukan dari al Humaydi – Sufiyan – Yahya bin Sa’id tapi dari jalur Qutaybah bin Sa`i – `Abd Al-Wahhab – Yahya bin Sa`id, dan bentuk Sighah yang sama juga ditemukan:

(6223)- [6689]
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ، قَالَ: سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ سَعِيدٍ، يَقُولُ: أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ، يَقُولُ: سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ  يَقُولُ

[[6689] – (6223) Telah menceritakan kepada kami Qutaybah bin Sa`id, `Abdul-Wahhab telah menceritakan kepada kami, dia berkata: saya pernah mendengar Yahya bin Sa`id berkata: telah mengabarkan kepada saya Muhammad bin Ibrahim, bahwa dia pernah mendengar `Alqamah bin Waqqas al-Laythi berkata: saya pernah mendengar`Umar bin al-Khattab berkata: Saya mendengar Rasulullah (saw) bersabda: dst…]

Ingat, riwayat ini sampai ke Imam Bukhari dari jalur yang berbeda dan guru yang berbeda, tapi keduanya tetap bertemu di Yahya bin Sa`id, semua kata penyampaian di kedua hadis itu sama. Ini menunjukkan bahwa kata tersebut sedemikian detilnya dicatat dan bukan hanya kebetulan saja.

Ini memperlihatkan ketelitian beliau dalam mencatat hadis seperti yang disampaikan oleh guru-gurunya. Demikian pula beliau menuliskan hadis yang sama dibagian lain dengan tulisan lebih sederhana, dimana gurunya memakai Sighah: “‘an” atau “dari”:

(2356)- [2529]
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ، عَنْ سُفْيَانَ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ، عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيِّ، قَالَ: سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ

[[2529] – (2356) Muhammad bin Kathir telah menceritakan kepada kami, dari Sufiyan, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa`id dari Muhammad bin Ibrahim al-Taymi, dari `Alqamah bin Waqqas, dia berkata: Saya mendengar `Umar bin al-Khattab dari Rasulullah (saw) dst…]

Namun ketika kita mengulas isi kitab hadis syiah Al Kafi karya Al-Kulayni, kita mendapati hal yang sangat berbeda. Hampir semua Sighah selalu dalam 1 tipe, yaitu yang paling sederhana: “‘an” atau “dari”.

Kata: “Hadatsana” atau “Telah menceritakan kepada kami”, yang merupakan Sighah jelas ditemukan di Sahih Bukhari sebanyak 14390 kali dari 7593 riwayat, tetapi di Al-Kafi, itu hanya ditemukan sebanyak 62 kali dari 16199 riwayat.

Secara matematis saja kita bisa melihat betapa sangat hati-hatinya Imam Bukhari dalam menjaga kejelasan penyampaian dan rantai riwayat di kitabnya dibandingkan Alim Hadis Syiah, Al-Kulayni.

Berkaitan dengan Mudallisin, atau perawi yang melakukan Tadlis, masalahnya bertambah lagi untuk Al-Kulayni dan Syiah.

Menurut `Awwad Al-Khalaf seorang ahli hadis Sunni yang meneliti permasalahan ini, ada 68 perawi yang diduga sebagai mudallis. Menurut ulama yang dihormati, al-Baaji, total perawi di Shahih Bukhari ada 1745 orang.

Namun dari banyak beribu-ribu perawi di Al-Kafi, kita tidak mendapati satupun perawi yang diduga melakukan Tadlis dan tidak ada satupun riwayat yang dilemahkan karena terdapat perawi mudallis.

Itu dikarenakan pemakaian “an” atau “dari” di mayoritas riwayat syiah di Al Kafi, sehingga sulit untuk menentukan apakah itu tadlis atau tidak.

Ja’far al-Subhani, ulama hadis syiah berkata di kitabnya Usul Al-Hadis (hal 115) ketika berbicara tentang Tadlis: “Sufyan bin `Uyaynah dikenal karena Tadlisnya. `Ali bin Khashram berkata: Kita bersama Sufyan bin `Uyaynah, dan dia berkata: Al-Zuhri berkata… jadi tadlis disini karena Sufyan tidak mengutip gurunya terlebih dahulu di Sighah yang semestinya hanya dipakai jika dia mendengar langsung dari Al-Zuhri”

Kami bertanya ke pembaca yang obyektif. Untuk apa ulama hadis syiah mengutip perawi sunni? Bukankah lebih baik dia memakai contoh perawi syiah yang diduga mudalis? Jawabannya sangat sederhana. Ulama syiah tidak terlalu memperhatikan masalah ini. Jadi syiah tidak punya contoh ataupun buku yang mengumpulkan nama mudallisin mereka, sehingga mereka mau tidak mau harus mengambil contoh dari kitab sunni.

Seorang peneliti Sunni, Sa`d ibn Rashid al-Shanfa, dalam studinya meneliti banyak kitab Ulama hadis syiah, namun tidak bisa menemukan satupun contoh dimana ulama syiah memberikan contoh mudallis syiah walaupun para ulama itu menulis kitab tentang Tadlis! Semuanya memakai referensi dari kitab sunni tentang perawi sunni.

Ulama syiah tersebut adalah Al-Shahid Al-Thani, Al-Husayn bin `Abd Al-Samad Al-`Amili, Agha Fadhil Darbandi, `Abd Al-Razzaq Al-Ha’iri, Al-Jalali, Al-Kajuri, Mullah `Ali Kuni, Ja`far Al-Subhani, `Abdullah Al-Mamaqani, `Ali Akbar Ghifari, Abu Fadhl Al-Babili, and `Ali Al-Berujerdi. Lihat kitabnya Al-Jarh wal Ta`dil `ind Al-Shia Al-Imamiyah (hal 52).

Yang menyedihkan, walaupun syiah tidak mampu menjaga kitab mereka dari riwayat mudallisin, Syiah dijangkiti penyakit dimana ulama mereka dengan sengaja mengabaikan, meremehkan, dan menipu pembaca dengan komentar mereka mengenai fenomena tadlis ini. Ja`far Al-Subhani, di akhir bab pembahasan Tadlis berkata (hal 117): “Untungnya, sangat jarang bagi kita untuk menemukan ini (Tadlis al-shuyukh – salah satu tipe Tadlis lainnya) dan tipe yang pertama (Tadlis) dari riwayat imamiyah.”

Namun kami – dan siapapun yang mempelajari ilmu hadis – yakin bahwa al-Subhani semestinya khawatir, bahkan mesti teramat sangat khawatir dikarenakan sebuah alasan sederhana. Syiah Imamiyah mengambil hampir semua riwayat hadis mereka dari orang Qum di Persia, yang mengambilnya dari orang Kufah di Irak. Lalu anda bertanya, apa hubungannya dengan Tadlis? Untuk jelasnya mari kita kutip apa kata Ulama Hadis sunni soal ini.

Imam Hadis al-Khatib al-Baghdaadi berkata dalam kitabnya “al-Jami`” 2/286: “Rantai riwayat yang paling benar dari hadis Nabi adalah perawi dari al-Haramain -Mekkah dan Madinah-, karena Tadlis mereka sangat sedikit dan jumlah mereka yang terkenal pembohong dan pemalsu sangatlah sedikit.”

Jadi menurut beliau, orang-orang yang hidup di masyarakat keturunan keluarga dan sahabat Rasulullah (saw) lebih hati-hati dalam periwayatan dan lebih takut soal ini dibanding masyarakat yang hidup di luar daerah itu.

Imam Hadis al-Hafiz al-Hakim al-Naysaburi berkata di kitabnya “al-Ma`rifah” hal 111: “Dan mereka yang paling banyak melakukan Tadlis dari seluruh perawi, adalah orang-orang Kufah dan beberapa grup dari orang-orang Basrah.”

Itulah sebab mengapa al-Subhani semestinya teramat sangat khawatir, karena ternyata mayoritas hadis syiah diriwayatkan mereka yang berasal dari kota yang terkenal dengan Tadlis. Bahkan ulama terbesar Hadis Ahlussunnah dari Kufahpun dikenal dengan Tadlis, seperti Sulayman bin Mihran al-A`mash dan abu Ishaaq `Amri bin `Abdullah al-Sabi`i dan yang lainnya…

Contoh Tadlis di al-Kafi:

Kita ambil riwayat dari Ibrahim bin `Umar al-Yamani dari abu Ja`far al-Baqir. Di al-Kafi jilid 2 hal 80:

عَلِيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ حَمَّادِ بْنِ عِيسَى عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عُمَرَ الْيَمَانِيِّ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ

[`Ali bin Ibrahim, dari bapaknya, dari Hammad bin `Isa, dari Ibrahim bin `Umar al-Yamani, dari abu Ja`far (as) dst…]

Menurut syiah, `Ali bin Ibrahim adalah dipercaya, seorang Thiqah, bapaknya Ibrahim juga demikian, Hammad bin `Isa juga Thiqah, Ibrahim bin `Umar juga Thiqah (menurut al-Khu’i), dia meriwayatkan dari Imam al-Baqir. Jadi terlihat hadis ini bisa diterima menurut standar hadis syiah, itulah karenanya al-Majlisi menilai hadis ini “Hasan kal-Sahih” di kitabnya Mir’aat-ul-`Uqul 8/68.

Tapi apakah riwayat ini benar tersambung atau terputus? Atau ada perawi yang tidak disebutkan disini yang berarti terjadi Tadlis?

Kita bisa temukan kemungkinan Tadlis itu dari hadis lain di al-Kafi 2/176:

عَلِيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ حَمَّادِ بْنِ عِيسَى عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عُمَرَ الْيَمَانِيِّ عَنْ جَابِرٍ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ

[`Ali bin Ibrahim, dari bapaknya, dari Hammad bin `Isa, dari Ibrahim bin `Umar al-Yamani, dari Jabir, dari abu Ja`far (as) dst…]

Di hadis ini kita temukan Ibrahim bin `Umar tidak mendengar langsung dari abu Ja`far al-Baqir, tapi dari Jabir al-Ju`fi, yang juga Thiqah menurut Syiah, jadi riwayat ini tetap dianggap sahih, sehingga al-Majlisi juga menilainya “Hasan kal-Sahih” di kitabnya Mir’aat-ul-`Uqul 9/54.

Kita bertanya lagi, apa jangan-jangan ada lagi nama perawi yang tidak disebutkan?

Untuk menjawabnya, kita buka al-Kafi 4/70:

عَلِيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ حَمَّادِ بْنِ عِيسَى عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عُمَرَ الْيَمَانِيِّ عَنْ عَمْرِو بْنِ شِمْرٍ عَنْ جَابِرٍ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ

[`Ali bin Ibrahim, dari bapaknya, dari Hammad bin `Isa, dari Ibrahim bin `Umar al-Yamani, dari `Amri bin Shimr, dari Jabir, dari abu Ja`far (as) dst…]

Sekarang kita dapati Ibrahim bin `Umar bukan hanya tidak mendengar langsung dari abu Ja’far tapi juga tidak mendengar langsung dari Jabir al-Ju`fi. Dia mendengar dari `Amri bin Shimr. Nah orang inilah yang merubah nilai hadis tersebut karena ternyata `Amri adalah Majhul, dia tidak dikenal. Oleh karena itu al-Majlisi menilai hadis ini “Da`if `ala al-Mashhur” di kitab yang sama 16/214.

Disini kita bertanya kepada semua ulama hadis syiah yang dengan mudahnya mensahihkan 2 hadis sebelumnya; karena kalian tidak bisa tahu dengan pasti apakah di hadis pertama Ibrahim bin `Umar mendengar langsung dari abu Ja`far al-Baqir (dikarenakan pemakaian sighat tidak jelas “‘an” atau “dari”), apakah tidak mungkin bahwa 2 hadis shahih sebelumnya juga dia dapatkan dari riwayat `Amri bin Shimr atau orang lain yang tidak dikenal? Jadi bagaimana bisa dengan yakin mensahihkan 2 riwayat pertama tapi mendaifkan yang terakhir?

Itulah kesimpulannya, terlihat betapa ilmu hadis Sunni jauh lebih terjaga dikarenakan usaha keras para ulama hadisnya, yang dahulu maupun yang sekarang, untuk membersihkannya dari riwayat Mudallisin, kecuali di riwayat yang memang jelas didengar langsung.

Sebaliknya syiah telah gagal total dalam mencatat nama para Mudallisin mereka dan gagal dalam mencatat Sighah yang jelas dan tidak pula mencatat kapan lahir dan wafatnya para perawi mereka. Syiah tidak bisa tahu apakah perawi syiah hidup di masa yang sama dan pernah bertemu satu sama lain atau apakah seorang perawi syiah mendengar langsung dari gurunya atau malah dari pendusta di sana dan di sini, sehingga Al-Kafi memiliki kredibilitas buruk karena ketidaktelitian dalam kejelasan periwayatannya dibandingkan dengan Shahih Bukhari.

Itulah salah satu dari banyak kondisi menyedihkan ilmu hadis syiah yang tidak jelas, tidak teliti dan ala kadarnya.

Sumber: dari TwelverShia.Net

Iklan